Connect with us

Ekonomi

Meluncur Maret 2021, Intip Skema Insentif Pajak 0% untuk Mobil Baru

Published

on

JurnalJakarta — Masyarakat Indonesia dalam waktu dekat bisa membeli kendaraan roda empat dengan harga yang lebih normal. Di tengah pandemi COVID-19, pemerintah akan memberikan insentif pajak berupa relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil baru yang mulai berlaku Maret 2021.

Dengan insentif ini, nantinya harga mobil akan berkurang cukup signifikan. Hanya saja, hal tersebut baru berlaku Maret dan potongan atau insentifnya berlaku sesuai periode berlaku.

Pemberian insentif ini diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat kelas menengah dan juga mendukung sektor otomotif tanah air. Begini skema pemberian insentif PPnBM untuk mobil baru ini.

Mengutip akun Instagram @kemenkeuri, Selasa (16/2/2021), penurunan tarif PPnBM ini ditanggung pemerintah (DTP). Pelaksanaannya dilakukan bertahap dari Maret hingga Desember 2021.

Periode pertama insentif PPnBM mobil baru akan dimulai pada Maret-Mei dengan diskon 100%. Periode II berlaku pada Juni-Agustus dengan diskon 50%. Periode III mulai September-Desember dengan diskon 25%.

Jenis kendaraan yang mendapat fasilitas adalah kategori sedan dan tipe 4×2 seperti hatchback, MPV, dan SUV dengan segmen sampai dengan 1.500 cc, menggunakan bahan baku lokal sebesar 70%, dan kendaraan dirakit di dalam negeri.

Kondisi normal, PPnBM mobil baru segmen sedang dengan kapasitas mesin maksimal 1.500 cc sebesar 30%. Setelah mendapatkan fasilitas maka PPnBM menjadi 0% pada periode pertama, lalu menjadi 15% di periode II, dan menjadi 22,5% di periode III.

Sedangkan segmen 4×2 seperti hatchback, MPV, dan SUV yang kapasitas mesinnya di bawah 1.500 terkena PPnBM sebesar 10%. Setelah mendapat fasilitas maka akan menjadi 0% di periode I, menjadi 5% di periode II, dan menjadi 7,5% di periode III.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, kebijakan ini akan lebih terasa jika disertai relaksasi makro prudensial yaitu penurunan uang muka hingga 0%.

Sebab, konsumen otomotif kelas menengah di Indonesia masih mengandalkan pembelian mobil dengan skema pembiayaan bank atau kredit.

“Penerapan PPnBM ini akan berlaku pada kendaraan di bawah 1.500 cc ini sekitar 60-65% market share dari otomotif nasional sehingga kebijakan ini akan mendongkrak penjualan mobil tahun ini,” ujarnya.

“Jika dikombinasikan dengan kebijakan makro prudensial, penjualan kendaraan diharapkan bisa naik hingga 30% dari realisasi penjualan tahun lalu dan produksi otomotif juga naik hingga 10%. Selain itu, kebijakan-kebijakan tersebut akan mampu membangkitkan industri otomotif nasional,” sambungnya.

Ekonomi

Goorita Hadir Bantu UMKM Merambah Pasar Internasional.

Published

on

By

Jurnaljakarta.com – Sebagai salah satu sektor penting penunjang perekonomian Negara, UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sudah tentu menjadi sektor prioritas yang perlu dikembangkan. Sejalan dengan program pemerintah dan arahan Presiden Jokowi terkait pengembangan UMKM, Goorita memberikan solusi yang dapat memudahkan UMKM untuk merambah pasar internasional dengan memanfaatkan teknologi digital.

 “Goorita merupakan platform one stop solution UMKM Indonesia untuk going international dimana kami menjembatani permasalahan yang sering dihadapi oleh para UMKM dalam melakukan ekspor produk lokal ke mancanegara, diantaranya proses pemasaran hingga pengiriman barang ke luar negeri,” ungkap Yuwono Wicaksono (Founder Goorita) Senin (22/2) di Jakarta.

Terkait latar belakang, Yuwono mengungkapkan bahwa dirinya melihat produk Indonesia memiliki peluang dan market yang potensial di pasar global, khususnya Amerika dan Eropa.  Selain itu, minimnya pemahaman ekspor menjadi kendala sebagian besar pelaku UMKM di tanah air untuk memasarkan produk ke pasar global.

Mengusung tagline ‘Ready to Fight for Indonesia’, Goorita hadir membantu UMKM tanah air mulai dari pemasaran hingga pengiriman produk sampai tujuan melalui tiga layanan unggulan, diantaranya Marketplace, Fullfillment dan Logistics.

1. Marketplace : Goorita terkoneksi dengan beberapa marketplace Internasional seperti eBay dan Amazon untuk mempermudah UMKM dalam memasarkan dan mengelola toko online mereka di marketplace global tersebut. Mulai dari pembuatan toko online, listing produk, manajemen stok, proses pesanan, pengiriman barang, monitoring pengiriman hingga pembayaran dari pembeli semuanya dengan mudah dapat dilakukan melalui satu platform digital Goorita. Untuk para UMKM yang belum terbiasa menggunakan platform digital, Goorita juga siap memberikan pembinaan agar UMKM tersebut bisa naik kelas siap ekspor.

 2. Fullfillment : Layanan ini membantu pelaku UMKM Indonesia yang sudah memiliki toko dan pembeli dari luar negeri dengan cara memudahkan proses operasional dan logistik yang umumnya sangat menyita waktu dan tenaga mereka. Mulai dari penyimpanan produk di gudang, manajemen stok barang, proses pesanan dari marketplace terintegrasi, packing hingga pengiriman sampai ke tangan pembeli semua dilakukan oleh Goorita melalui layanan Fulfillment. Dengan layanan ini diharapkan UMKM dapat fokus ke proses produksi dan pemasaran barang tanpa harus disibukkan dengan operasionalnya.

 3. Logistics : Goorita telah bekerjasama dengan perusahaan logistic internasional dan domestik dalam pengiriman barang. Dengan layanan logistik ini, UMKM dapat mengirimkan barang dengan tarif pengiriman internasional yang bersahabat . Dengan menekan biaya pengiriman internasional, otomatis harga jual produk lokal di luar negeri bisa menjadi semakin kompetitif. Layanan logistik ini juga dapat dengan mudah diakses melalui platform Goorita yang sudah dilengkapi dengan kalkulasi otomatis shipping rate dengan pilihan layanan pengiriman tercepat atau termurah yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing UMKM.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Sony tersebut menambahkan, selain pemasaran online, Goorita juga membantu pemasaran produk secara offline yang dipasarkan toko offline store setempat dan komunitas WNI di berbagai Negara.

“Kami juga membantu memasarkan produk Anda secara offline baik offline store juga komunitas diaspora diberbagai negara. Dengan program 10.000 Indonesian Diaspora for UMKM, kami berharap bisa memberdayakan Diaspora Indonesia yang jumlahnya sangat banyak tersebar di seluruh dunia”

“Saat ini kami telah membantu kurang lebih 270 pelaku UMKM untuk memasarkan produk mereka ke luar negeri dengan total kiriman mencapai 10 Ton. Tahun ini (2021) kami menargetkan sebanyak 5.000 pelaku UMKM bergabung dengan Goorita,” sambung Sony.

Keuntungan bagi UMKM bergabung dengan layanan Goorita adalah, dapat menjangkau ke milyaran pembeli di dunia. Kemudahan memasarkan produk secara online melalui marketplace global. Tarif pengiriman internasional yang “UMKM friendly”. Pilihan solusi ekspor yang dapat disesuaikan kebutuhan serta, Pembinaan, edukasi dan informasi terkait bisnis ekspor

“Selain proses pemasaran dan pengiriman ke luar negeri, Goorita juga memiliki program layanan pelatihan dan pendampingan bagi UMKM di seluruh Indonesia yang bergabung dan mendaftarakan diri di Goorita” tambah Sony.

“Sejauh ini kami sangat bangga bisa menjadi bagian dalam pemulihan perekonomian bangsa ini dengan cara mengembangkan UMKM khususnya dalam membantu mereka melakukan ekspor. Kami juga mengajak semua pihak antara lain pelaku UMKM, para pengusaha, invetor, local brand owners, instansi pemerintah, komunitas UMKM, Diaspora dan seluruh lapisan masyarakat untuk selalu optimis dan bersama-sama memajukan sector UMKM, karena kami yakin bahwa setiap anak bangsa dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa ini.” Tutup Sony.

Continue Reading

Ekonomi

Biaya Logistik Mahal Jadi Kendala UMKM Bersaing di Pasar Domestik

Published

on

By

Jurnaljakarta.con  – Pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) nasional menjadi salah satu sektor usaha yang paling terdampak dari Pandemi Covid-19. Dari 64 juta pelaku UMKM, menurut Asian Development Bank (ADB) sebanyak 50 persennya terancam gulung tikar. Dan sebanyak 88 persen sudah tidak memiliki tabungan. Maka tak heran jika saat ini pemerintah tengah aktif melakukan upaya penyelematan UMKM melalui berbagai program.

Asisten Deputi Pengembangan Kawasan dan Rantai Pasok Kementerian Koperasi dan UKM, Ari Anindya Hartika, menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi UMKM di masa pandemi seperti saat ini tidak hanya persoalan permodalan semata. Melainkan ada faktor lain seperti pemasaran atau penjualan ketersediaan bahan baku hingga persoalan logistik yang mahal ketika mendapatkan order.

Dari catatannya, UMKM yang mengalami masalah penurunan penjualan yaitu sebanyak 22,90 persen. Kemudian persoalan distribusi logistik dan ketersediaan bahan baku sebanyak 20,01 persen. Sedangkan isu permodalan dialami oleh sekitar 19,39 persen. Sementara sektor yang paling terdampak yaitu pedagang besar dan eceran 40,92 persen, penyedia akomodasi dan makanan dan minuman 26,86 persen. Sementara sektor pengolahan yang terdampak sebanyak 14,25 persen.

“Jadi persoalan lain yang utama itu masih ada beberapa pelaku UMKM yang bergantung bahan baku impor, sementara ongkos logistiknya mahal di saat yang sama terjadi penurunan daya beli masyarakat,” kata Ari dalam Webinar dengan tema Industri Logistik Penopang UMKM Naik Kelas di Masa Pandemi, Rabu (24/2/2021). Acara webinar ini diadakan oleh situs beritakota.id dengan dukungan dari beberapa sponsor yaitu SiCepat Ekspress, Galeri24, PT Pegadaian (Persero), JNE, Eiger dan Kokola Biscuit and Wafer.

Untuk mengatasi berbagai persoalan UMKM itu, pemerintah melalui Kemenkop UKM memiliki beberapa program seperti pelatihan digitalisasi UMKM, penyediaan akses permodalan yang murah hingga dukungan pemasaran yang bekerja sama dengan Lembaga Kebijakan PengadaanBarang/Jasa Pemerintah (LKPP). Dengan fasilitas ini diharapkan pelaku UMKM bisa terlepas dari jerat persoalan yang dialami sehingga nantinya bisa naik kelas secara bertahap.

Ari mendorong agar pelaku UMKM memaksimalkan penggunaan media digital dalam pemasarannya. Sebab hingga saat ini baru sekitar 13 persen yang sudah melakukan digitalisasi dalam pengembangan dan pemasaran produk UMKM. Dengan digitalisasi juga akan tercipta efektifitas produksi hingga ke pengiriman.

“UMKM yang melek digital itu baru sekitar 13 persen, maka kita terus dorong mereka bisa masuk ke ranah digital sebab ini sebuah keniscayaan. Di masa pandemi seperti saat ini perilaku masyarakat beralih dan mengutamakan social distancing sehingga dalam melakukan kegiatan dan pemesanan menghindari kontak fisik. Jadi UMKM mau tidak mau suka tidak suka harus ikuti era digital, mereka harus go online,” pungkasnya.

Menanggapi biaya logistik yang mahal itu Chief Commercial Officer SiCepat Ekspress, Imam Sedayu, menjelaskan bahwa pihaknya sangat komitmen untuk mendukung UMKM naik kelas dengan penyediaan layanan antar paket yang murah meriah. Diakuinya bahwa selama pandemi Covid-19 ini tren belanja online meningkat drastis yang pada akhirnya mendorong peningkatan jumlah paket antaran yang harus diselesaikan oleh perusahaan ekspedisi ini. Dalam sehari pihaknya bisa melayani hingga 900 ribu paket di mana rata-rata merupakan paket dari para UMKM.

Dia tidak memungkiri bahwa selama ini biaya logistik yang mahal menjadi persoalan bagi kebanyakan UMKM. Untuk itu tahun lalu pihaknya meluncurkan layanan HALU. Dengan biaya paket mulai Rp5.000, diharapkan UMKM bisa terbantu. Layanan ini menjamin pengiriman ke seluruh wilayah di Indonesia dengan rentang pengiriman paket sama dengan kelas reguler.

“Kita kerjasmaa dengan beberapa platfrom agar bagaimana kita punya service dengan biaya murah, kita juga belum lama ini launching layanan Gokil (Cargo Kilat) dengan tarif mulai Rp25.000 per 10 Kg. Juga ada layanan terintegrasi Clodeo yang mencakup manajemen inventory di pergudangan kami,” kata Imam.

Dijelaskan untuk mempermudah akses UMKM mendapatkan gerai ekspedisi, SiCepat Ekpress menggandeng toko ritel Alfamart dan FastPay yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Para UMKM yang mendapat order paket bisa melakukan pengiriman dengan melalui dua Channel tersebut yang mudah ditemukan di setiap wilayah.

Sementara itu Chairman Supply Chain Indonesia, Setijadi, menambahkan bahwa industri jasa logistik memang sangat berperan penting bagi kemajuan UMKM. Pasalnya dengan kondisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan jumlah penduduk yang sangat besar, menjadikan jasa ekspedisi paling banyak dicari. Terlebih di era maraknya belanja online seperti saat ini.

Data menunjukkan bahwa industri jasa transportasi dan pergudangan pada tahun 2019 lalu tumbuh sangat bagus yaitu mencapai 10,58 persen atau berada di atas pertumbuhan industri manufaktur. Terkait dengan peran industri ini terhadap peningkatan UMKM, menurutnya perlu ada upaya khusus agar skala ekonomi UMKM bisa ditingkatkan. Sebab ketika pengiriman produk masih bersifat mandiri maka justru itulah yang menyebabkan biaya logistik mahal.

“Dengan keterbatasan volume produksi dan sebagainya sehingga tidak mampu memenuhi skala ekonomi, maka sulit bagi UMKM bisa berdaya saing dengan produk luar negeri. Jadi skala ekonomi harus dipecahkan sebab jika tidak bisa diselesaikan mereka akan kalah saing,” kata dia.

Untuk itu, dia berharap nantinya akan ada sebuah sistem terpadu yang dibangun pemerintah yaitu Supply Chain Center. Dengan keberadaannya maka biaya logistik, biaya pengadaan bahan baku, biaya produksi hingga inventory bisa ditekan dan lebih hemat. Pada akhirnya keberadaan Supply Chain akan mampu mendorong penurunan harga produk UMKM dengan tanpa mengabaikan kualitasnya.

“Dengan Supply Chain Center akan bantu UMKM untuk mengelola barang mereka secara efisien. Tetapi supply chain center ini tidak bisa didirikan tanpa dukungan berbagai pihak, seperti pemerintah lintas sektoral, industri perbankan dan pegiat UMKM,” pungkas dia.

Ketua Asosiasi UMKM Indonesia, Muhammad Ikhsan Ingratubun, mengapresiasi keberadaan industri logistik seperti SiCepat Ekspres dan lainnya. Sebab dengan berbagai inovasi dan layanan yang semakin baik hingga saat ini sangat membantu pelaku UMKM dalam melayani permintaan buyer. Menurutnya industri jasa logistik akan terus tumbuh baik di saat pandemi atau nanti setelah masa pandemi.

“Ini bisnis yang menjanjikan ke depan dan sangat membantu kami para UKM. Dengan modal trust, kecepatan pengiriman dan biaya murah, apabila bisa menjawab tiga hal itu maka pasti jasa ekspedisi ini akan jadi lead di indonesia. Apalagi bagi umkm yang setiap saat mengirimkan paket,” ungkap Ikhsan.

Untuk mendukung UMKM naik kelas, dia berharap tidak terus – terusan melakukan pembatasan sosial. Sebab UMKM merasakan dampak yang begitu besar dengan kebijakan itu lantaran omset penjualannya turun drastis.

Kemudian juga kebijakan pemerintah yang melakukan bidding produk UMKM melalui LKPP dianggapnya sebagai salah satu kebijakan yang kurang tepat. Sebab banyak sekali UMKM terkendala standar yang diwajibkan LKPP sehingga tidak bisa masuk dalam kanal tersebut.

“Kita katakan bahwa kebijakan pengadaan barang dan jasa melalui LKPP itu merusak UMKM. Sebab UMKM akan kesulitan memenuhi ketentuan dalam LKPP, itu jelas merusak pasar kami,” pungkas dia.

Continue Reading

Ekonomi

Bank Mega Cetak Laba Bersih Rp 3 Triliun di 2020

Published

on

JurnalJakarta — PT Bank Mega Tbk pada 2020 mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,01 triliun. Capaian tersebut artinya tumbuh 50% dibandingkan periode 2019 yang sebesar Rp 2 triliun.

Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib mengungkapkan pertumbuhan laba ini diperoleh dari pendapatan bunga bersih atau net interest income sebesar 9% menjadi Rp 3,9 triliun dibandingkan posisi tahun 2019 sebesar Rp 3,58 triliun.

“Fee based income juga menyumbang kenaikan laba yakni menjadi Rp 2,9 triliun atau tumbuh 26% dibandingkan periode 2019 Rp 2,3 triliun,” kata Kostaman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/2/2021).

Kemudian total aset tercatat Rp 112,2 triliun atau naik 11% dibandingkan periode 2019 sebesar Rp 100,8 triliun.

elanjutnya dana pihak ketiga (DPK) Bank Mega Rp 79,19 triliun atau naik 9% dibandingkan periode 2019 sebesar Rp 72,8 triliun. DPK ini terdiri dari deposito yang mendominasi yaitu 72%, tabungan 17% dan giro sebesar 11%.

Menurut Kostaman kelesuan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi ini mengakibatkan kredit pihak ketiga Bank Mega negatif 6% yakni menjadi Rp 48,5 triliun dari Rp 51 triliun pada 2019.

“Kredit korporasi masih tumbuh positif dibandingkan segmen lainnya, yaitu sebesar 55% menjadi Rp 26,2 triliun,” ujar Kostaman.

Kostaman juga menjelaskan rasio beban operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) semakin membaik yakni menjadi 65,9% dibanding posisi 2019 sebesar 74,1%. Hal ini karena dampak inovasi digital yang dilakukan perseroan sejak 2 tahun terakhir baik back office maupun front office.

Kemudian permodalan tercatat 31,4% naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 23,68%. Menurut dia rasio permodalan yang kuat merupakan hal penting untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. (Bgs)

Continue Reading

Populer