Connect with us

Teknologi

Asumsi.co Salah Satu Media Penerima Dana Hibah Dari Google News Initiative Luncurkan YourMedia

Published

on

Jurnaljakarta.com – Industri media di Indonesia kerap menghadapi tantangan untuk berinovasi. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat dalam mengkonsumsi berita.

Selama itu pula, Asumsi.co telah hadir sebagai media alternatif pilihan anak muda yang mengedepankan kualitas kontennya dalam bentuk video, tulisan dan juga podcast.

Pada 2019 lalu, Asumsi.co menjadi salah satu dari dua media asal Indonesia yang menerima dana hibah dari Google News Initiative. Sebagai perwujudan dari inisiatif tersebut, Asumsi.co kini meluncurkan YourMedia yang bisa diakses di https://yourmedia.asumsi.co.

YourMedia adalah sebuah platform yang mengizinkan audiensnya untuk berdonasi terhadap sajian konten pilihan mereka di Asumsi.co. Selain mengedepankan kualitas, Asumsi.co juga percaya bahwa pembaca, pendengar, dan penontonnya adalah bagian dari perubahan lansekap industri media di Indonesia.

“Pada dasarnya, kami membuat YourMedia karena kami percaya pembaca dan penonton bisa dilibatkan lebih dalam proses pembuatan konten. Banyak audiens kami yang merasa konten yang kami sajikan informatif dan berguna. YourMedia adalah langkah pertama kami untuk meningkatkan partisipasi audiens dalam produksi konten kami,” tutur Pangeran Siahaan selaku founder dan CEO Asumsi.co.

Melalui YourMedia, audiens Asumsi bisa menunjukkan apresiasinya terhadap jenis laporan pilihan mereka, mulai dari video, tulisan maupun podcast, dengan memberikan donasi dimulai dari Rp10.000.

Donasi yang dikirim melalui YourMedia bisa dilakukan melalui fitur transfer bank dan juga GoPay seperti layaknya platform e-commerce. Penyediaan fitur ini dilakukan untuk mempermudah proses donasi dari audiens.

“Untuk tahap pertama, audiens kami bisa memberikan apresiasi terhadap konten-konten andalan kami seperti Asumsi Distrik. Tapi untuk tahap berikutnya, kami melihat kemungkinan bahwa audiens kami yang berdonasi pun bisa turut menentukan topik dan kemasan dari produk artikel atau video yang akan kami produksi,” lanjut Pangeran.

YourMedia adalah bagian dari visi jangka panjang Asumsi yang menempatkan audiens sebagai salah satu stakeholder utama dalam ekosistem medianya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknologi

iSeller Luncurkan iSeller Versi 2 Pertajam Fokus di Performance dan User Experience

Published

on

By

Jurnaljakarta.com – iSeller yang merupakan platform penjualan pertama di Indonesia yang dirancang untuk membantu pengusaha para UMKM dalam mengembangkan dan mengelola bisnisnya, kembali meluncurkan terobosan terbarunya dengan merilis iSeller Versi 2.

iSeller v2 merupakan pembaharuan besar dari aplikasi point-of-sale (POS) iSeller, yang selama ini telah diandalkan oleh puluhan ribu pelaku usaha di seluruh Indonesia. Aspek andalan dalam iSeller v2 ini adalah improvisasi performance dan skalabilitas infrastruktur sehingga mampu memproses jutaan transaksi dalam waktu near real-time.

Demikian hal tersebut disampaikan CEO iSeller Jimmy Petrus dalam event IFBC 2020 Kartika Expo di Balai Kartini Jakarta Jumat (13/3/2020).

Jimmy menjelaskan, iSeller v2 merupakan pembaharuan besar dari aplikasi POS iSeller yang selama ini telah diandalkan oleh puluhan ribu pelaku usaha di seluruh Indonesia. Aspek andalan dalam iSeller v2 ini adalah improvisasi performance dan skalabilitas infrastruktur sehingga mampu memproses jutaan transaksi dalam waktu near real-time.

“Jadi iSeler V2 ini fokus pada stabilias performance yang memiliki 10 kali lipat lebih cepat dari iSeller sebelumnya,” jelas Jimmy.

Sistem Seller v2 semakin simpel dan semakin mudah digunakan, bahkan orang awampun akan mudah untuk menggunakannya,” tambah jimmy.

Menurut Jimmy, dunia bisnis menuntut kecepatan dan stabilitas, peningkatan performance di iSeller v2 ini merupakan angin segar dan juga solusi total untuk berbagai bisnis mulai dari level UKM, franchise hingga enterprise,” tuturnya.

Selain itu lanjut Jimmy, iSeller v2 sudah menggunakan QRIS payment yang sudah terintergrasi pada point-of-sale (POS) maupun dalam sistem Digital Kiosk, dan user experience yang dirancang lebih modern dan simple, sehingga sangat mempermudah merchant untuk berjualan dan mengembangkan bisnisnya,” lanjut Jimmy.

Selain itu iSeller v2 juga sudah memiliki server yang mampu merisert 3 juta reques per menit. Dengan pencapaian di versi baru ini, merchant dapat melakukan transaksi dengan cepat sekalipun dengan jumlah besar dan dari ratusan outlet secara bersamaan, termasuk transaksi cash maupun digital payment seperti ShopeePay,” ungkap Jimmy.

Pada event IFBC kali ini juga iSeller bekerja sama dengan Conblock Group, salah satu group besar yang bermain di bidang F&B.

Conblock Group sendiri di event ini membawa Bobabits, brand besutan mereka yang menjual minuman kekinian seperti boba drink, yoghurt dan masih banyak lagi.

Bobabits dan Conblock sendiri merupakan merchant yang sudah mempercayakan bisnis franchisenya kepada iSeller untuk kebutuhan sistem kasirnya.

“Kami sangat senang atas kerjasama dengan Conblock group khususnya untuk brand Bobabits, dimana solusi omni channel POS dari iSeller dapat menjawab kebutuhan bisnis franchising yang semakin kompleks di era milenial ini,” ujar Andreas Christanto, iSeller VP of Partnership.

Mulai dari sistem POS yang sudah terintegrasi dengan sistem Digital Self Kiosk hingga managemen inventaris, CRM, loyalty, dan pembayaran digital yang sudah terpadu, kami percaya sistem iSeller merupakan solusi yang tepat untuk para pelaku usaha franchise yang ingin mengembangkan bisnisnya dengan cepat seperti Bobabits ini.”, lanjut Andreas.

Dalam kesempatan yang sama Ian Lasuardi, Manager Bobabits menjelaskan, “Bobabits mengusung konsep kekinian dimana target kami adalah orang-orang millenial yang ingin serba cepat. Tentu saja kami sangat menginginkan sebuah sistem yang kaya fitur, cepat dan stabil untuk mendukung transaksi kami,” jelasnya.

“Kami sudah merasakan kecepatan dan keunggulan iSeller POS, berjualan menjadi sangat mudah dan lancar. Kami juga sangat senang dengan sistem Digital Kiosk yang ditawarkan iSeller, pengunjung kami bisa memesan hingga membayar sendiri. Semua sudah serba digital dan tidak perlu lagi uang tunai. Ini sangat cocok dengan gaya hidup kaum millenial zaman sekarang dimana pembayaran digital lewat handphone mulai menggantikan pembayaran tunai,” imbuhnya.

Setelah ini pun kami akan mewajibkan seluruh franchisee kami untuk menggunakan iSeller POS dan Digital Kiosk ini di store mereka. Sistem iSeller juga sudah memiliki beragam fitur untuk mendukung bisnis franchise seperti Digital Payment Acceptance, Integrated Inventory, Stock Transfer Management, Outlet Grouping, Price Book dan masih banyak lagi.

Fitur-fitur ini akan sangat mempermudah pengelolaan bisnis franchise dengan banyak outlet.

Dengan diluncurkannya iSeller v2 ini, diharapkan para pemain franchise untuk tidak bingung lagi dalam memilih sistem yang cepat, stabil dan kaya fitur. iSeller sebagai solusi terlengkap yang akan memenuhi semua kebutuhan bisnis Anda,” pungkasnya.

Continue Reading

Teknologi

Belum Berstatus BUT, Netflix Buat Indonesia Rugi Rp 629 M

Published

on

JurnalJakarta.com — Netflix telah hadir di Indonesia sejak Januari 2016. Selama itu pula, layanan video on demand tersebut bikin rugi negara sebesar Rp 629,76 miliar.

Kerugian tersebut dialami Indonesia gegara Netflix belum menyandang status Badan Usaha Tetap (BUT). Kewajiban bagi perusahaan penyedia layanan over the top (OTT) harus BUT tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 mengenai Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE)

“Potensi kerugian itu kira-kira berdasarkan jumlah subscriber. Ini semua kira-kira,” kata Anggota Komisi I DPR RI, Bobby Rizaldi di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Dikutip data dari Statista, diketahui Netflix mempunyai 481.450 pelanggan di Indonesia pada tahun lalu. Di 2020, diperkirakan jumlahnya naik dua kali lipat menjadi 906.800.

Dengan asumsi paling konservatif, 481.450 pelanggan tersebut berlangganan paket paling murah di Netflix, yang artinya mereka meraup Rp 52,48 miliar. Bila dikalikan selama setahun, layanan video on demand ini bisa mendapatkan Rp 629,76 miliar.

Bobby menjelaskan perusahaan OTT tersebut kebanyakan membakar uangnya dalam menjalankan usahannya. Tetapi, di sisi lain, mereka mendapatkan data berupa trafik hingga kebiasaan pengguna yang bisa jadi big data.

“Uangnya tidak di Netflix, tetapi di perusahaan big data yang menangani trafik di Netflix seperti lainnya, Gojek, Tokopedia, itu tidak ada uangnya di BUT,” ungkapnya.

Maka dari itu, DPR menyarankan agar pemerintah meniru cara Singapura yang akan menerapkan aturan kepada perusahaan OTT dengan membebani pajak kepada pengguna Netflix.

“Tinggal Netflix-nya mau membebankan ke user apa dia yang nanggung,” pungkasnya.

Continue Reading

Teknologi

Parakerja.co.id Jadi Aplikasi Penunjang Kemandirian Penyandang Disabilitas

Published

on

JurnalJakarta.com — Menggandeng Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pubisindo) dan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Perusahaan Platform Kerja untuk Disabilitas ‘Parakerja’ meluncurkan aplikasi penunjang kemandirian penyandang disabilitas bernama Parakerja.co.id di UnionSPACE, Satrio Tower, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (19/12).

Acara peluncuran ini dihadiri langsung CEO Parakerja Rezki Achyana dan Ketua Umum Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bapak Gufroni Sakaril.

Memiliki visi untuk membantu penyandang disabilitas dan non disabilitas dalam meningkatkan aksebilitas dan kompetensi kerja menuju era industri 4.0, aplikasi platform berbasis web dan android ini dibuat untuk memberi kemudahan bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan modul pembelajaran dan pelatihan kerja.

“Dengan adanya aplikasi parakerja para disabilitas serta non disabilitas akan mudah mendapatkan modul pembelajaran dan utama mengenai bahasa isyarat yang di Indonesia sendiri tidak ada lembaga ataupun tempat khusus untuk belajar bahasa isyarat, baik offline apalagi online,” jelas Rezki Achyana di hadapan awak media.

Sebagai “Partner Digital” untuk penyandang disabilitas dan Non disabilitas seperti keluarga penyandang disabilitas, guru SLB, HRD perusahaan dsb, aplikasi ini dilengkapi berbagai fitur unggulan yang tidak ada di aplikasi sejenis, seperti : Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), dimana pengguna aplikasi bisa Belajar bahasa tuli langsung dari Penyandang disabilitas Tuli, lengkap dengan isyarat per kata, contoh kalimat, dan latihan komunikasi.

Konsultasi, fitur ini berfungsi untuk Menjawab berbagai pertanyaan mengenai dunia disabilitas, dan menjadi sumber jawaban dalam mendidik anak-anak disabilitas, yang dijelaskan oleh para pakar dan ahli di bidangnya. Tematik, sebuah Media belajar inovatif dan interaktif untuk pembelajaran di SLB. Sehingga Belajar secara digital di sekolah menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Vokasional, Mempersiapkan disabilitas memasuki dunia kerja, dengan pembinaan melalui video yang aksesibel dan mudah dipahami.

“Ada 4 hal yang jadi fokus utama parakerja yaitu aksesbilitas, edukasi, kreatifitas dan pemberdayaan, Cuma untuk versi awal ini kami berfokus di bahasa isyarat karena merupakan hal paling pokok dalam hal kesetaraan antara penyandang disabilitas dan non disabiltas,” Imbuh Rezki.

Tidak hanya memberi modul pembelajaran, aplikasi parakerja.co.id juga memberikan kesempatan magang dan bekerja bagi penyandang disabilitas dengan memberikan sertifikasi keahlian di suatu bidang kerja.

Hal ini bertujuan agar kedepan para penyandang disabilitas mempunyai legalitas untuk bekerja di sebuah perusahaan.

Terhitung sejak aplikasi ini diluncurkan, Perusahaan Start Up Parakerja telah berkolaborasi dengan 6 Sekolah Luar Biasa (SLB) yang tersebar di 5 Kota di Indonesia termasuk yang terbaru adalah dengan SLB N 6 Jakarta untuk program digitalisasi SLB.

Selain itu parakerja juga dalam momen ini menggandeng perusahaan Virtual Reality Nasional yaitu Millea Lab untuk meningkatkan proses pembelajaran dan pengingkatan kapabilitas teman – teman difabel melalui teknologi VR dan AR.

“Perlu diketahui banyak sekali jurnal – jurnal ilmiah di luar negeri yang bisa menunjukan penggunaan VR dan AR sangat membantu proses belajar bagi para penyandang disabilitas khususnya Autis” tutur Rezki menambahkan.

Usai pemaparan dan dialog, acara kemudian diakhiri dengan penandatanganan MoU kerjasama antara Parakerja.co.id dengan Kementrian sosial, SLB N 6 Jakarta, Pubisindo dan PPDI.

Dengan diluncurkannya aplikasi ini, kedepan parakerja berharap para penyandang disabilitas diharapkan dapat mandiri secara ekonomi dan mencapai kesetaraan dalam pekerjaan serta kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Continue Reading

Populer