Opini
Suara Hati Seorang Perwira Tinggi Polri Asal Kota Wali Demak
JURNALJAKARTA.COM – Menyongsong tahun 2026, sebuah fase dimana terbentang luas dinamika dengan berbagai kemungkinan, tantangan, yang bergerak penuh dengan ketidakpastian.
Dalam situasi demikian, negara dan institusi membutuhkan figur-figur bijaksana yang mampu menggunakan kewenangan, kuasa dan pengaruh dengan landasan moral yang kokoh serta kesadaran penuh akan tanggung jawabnya
Kekuatan, kekuasaan dan kewenangan di tangan orang bermoral akan melahirkan kesejahteraan. Sebaliknya, di tangan orang amoral, ia melahirkan kesengsaraan”.
Ada Seorang perwira tinggi Polri yang cukup lama bertugas di Lemdiklat Polri, mengabdi hampir 10 tahun di jajaran Lemdiklat menyandang pangkat Inspektur Jenderal Polisi. Sebuah pesan yang sederhana dalam kata, namun sarat makna dalam substansi.
Dengan berbagai pengalaman penugasannya di berbagai daerah di Indonesia mempertemukannya dengan beragam masyarakat, baik dalam segi dinamika wilayah dan kompleksitas persoalan sosial yang berbeda-beda. Tidak hanya membentuk ketangguhan profesional, tetapi juga memperkaya perspektif kemanusiaannya.
Dia memahami bahwasanya penegakan hukum itu tidak pernah berdiri di ruang hampa.
Fase perjalanan menjadi proses pendewasaan yang menempa integritas, kebijaksanaan dan kepekaan moral seorang pemimpin.
Dengan pengalaman dari berbagai tugas di lapangan hingga jabatan strategis, setiap Kepercayaan yang kini diembannya dilingkungan Lemdiklat Polri merupakan titik penting dari perjalanan panjang tersebut, sebuah amanah strategis untuk turut menentukan arah, karakter.dan kualitas generasi Polri di masa depan melalui pendidikan.
Ia lahir di Kota Wali Demak, Jawa Tengah, sebuah wilayah yang dikenal Agamis dan lekat dengan nilai kesederhanaan, kerja keras dan keteguhan hidup.
Di samping pengabdian lapangan, ia juga menaruh perhatian besar pada dunia akademik. Pendidikan Strata Dua ditempuhnya di Universitas Indonesia dengan meraih gelar Magister Ilmu Kepolisian.
Komitmen terhadap pengembangan keilmuan itu berlanjut hingga jenjang Strata Tiga, dengan menyandang gelar Doktor Manajemen Kependidikan dari Universitas Negeri Semarang.
Disiplin ilmu manajemen kependidikan merupakan bidang yang relatif jarang dimiliki oleh perwira tinggi di jajaran Kepolisian.
Latar belakang akademik inilah yang menjadikan penempatannya pada lembaga pendidikan Polri sebagai pilihan yang tepat dan strategis.
Dalam konteks tersebut, pimpinan Polri dinilai tidak keliru menempatkannya pada institusi pendidikan, sejalan dengan kapasitas, pengalaman, dan keilmuan yang dimilikinya.
Pendekatan Humanis
Dengan mengedepankan pendekatan humanis. Dalam kepemimpinannya, Sejak awal kariernya, ia dikenal sebagai perwira tinggi yang ketegasan tidak pernah berseberangan dengan empati dan kewenangan selalu dilekatkan pada tanggung jawab moral.
Penugasannya di lingkungan pendidikan Kepolisian, mencerminkan keyakinannya bahwa kualitas sumber daya manusia adalah fondasi utama kekuatan institusi.
Pendidikan tidak dipandang semata sebagai proses transfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter, etika dan integritas.
Di sinilah prinsip lifelong learning—belajar sepanjang hayat—menjadi pijakan penting dalam membangun profesionalisme Polri yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Menariknya, dalam komunikasi sehari-hari, ia menunjukkan keluasan wawasan sekaligus kepekaan budaya.
Saat berdialog, ia kerap menyapa dengan hangat menggunakan panggilan yang tidak kaku, seperti “Gus, Mas, Bli.”
Sapaan sederhana, namun sarat makna, mencerminkan kemampuannya membangun kedekatan lintas latar belakang tanpa kehilangan wibawa.
Cara berbahasa tersebut menjadi cermin seorang pemimpin yang tidak hanya memahami struktur dan jabatan, tetapi juga memahami manusia dan dinamika zamannya.
Sikap yang luwes, membumi dan kontekstual ini menunjukkan kepemimpinan yang relevan di tengah perubahan sosial yang terus bergerak.
Bagi dirinya, pendidikan adalah ruang strategis untuk menanamkan nilai moral, kebijaksanaan dalam menggunakan kewenangan, serta kesadaran bahwa setiap jabatan adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara institusional, tetapi juga secara etis.
Jabatan Sebagai Amanah
Kekuatan dan kewenangan, ketika dipandu oleh moral dan kebijaksanaan, akan melahirkan kesejahteraan.
Di situlah makna sejati kekuasaan diuji—bukan pada seberapa besar kewenangan yang melekat, melainkan pada bagaimana kewenangan itu digunakan dan dipertanggungjawabkan.
Ia menerangkan bahwa, setiap jabatan adalah amanah, bukan sekadar capaian, namun tanpa nilai etis sebagai penuntun, kekuasaan justru berpotensi menghadirkan kesengsaraan.
Di tengah masa depan yang sarat tantangan dan perubahan, refleksi ini hadir sebagai pesan yang jernih dan relevan, bukan hanya bagi institusi Polri, tetapi juga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ungkapan tersebut bukan sekadar pengakuan personal, melainkan cerminan sikap batin seorang pemimpin yang tidak menjadikan pangkat sebagai tujuan, melainkan sebagai konsekuensi alami dari pengabdian yang dijalani dengan ketulusan dan konsistensi. (Red).
Opini
Dari Pedagang Teh Botol ke Raja Pasar Malam: Kisah Sukses H. Muntohar dan “Diana Ria” yang Siap Hibur Demak di Tahun Baru
DEMAK, JURNALJAKARTA.COM – Kisahnya adalah bukti nyata bahwa kerja keras, inovasi dan kegigihan bisa mengubah seorang pedagang kecil menjadi pengusaha hiburan terkemuka. H. Muntohar, pemilik usaha wahana keliling “Diana Ria” asal Demak, baru-baru ini berbagi cerita inspiratif dalam podcast Ngopi (Ngobrol Penuh Inspirasi) yang tayang di YouTube, Rabu (17/12/2026).
Perjalanan bisnis pria ini berawal sangat sederhana: berjualan teh botol Sosro dan bakso. Namun, jiwa wirausahanya membawanya masuk ke dunia wahana hiburan keluarga atau pasar malam sejak tahun 1990-an. Perjalanan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2003, untuk pertama kalinya ia memiliki set wahana milik sendiri. Titik balik kesuksesan sejati terjadi pada 2007, ketika usahanya melebar dengan mengelola lebih dari satu set wahana permainan.
“Tahun 2007 itu menjadi momentum. Saat kita mulai mengelola beberapa set wahana sekaligus, skala usaha benar-benar berubah,” tutur Muntohar, seperti disarikan dari podcast tersebut.
Kini, puluhan hingga ratusan kali Diana Ria telah menyelenggarakan pasar malam di berbagai kota di Pulau Jawa, mulai dari Semarang, berbagai daerah di Jawa Timur, hingga Jawa Barat seperti Bandung.
*Suka Duka di Balik Gemerlap Lampu Wahana*
Di balik gemerlap lampu dan riuh tawa pengunjung, Muntohar mengakui ada suka duka yang harus dilalui. Kebahagiaan terbesarnya adalah melihat usaha yang dibangun dari nol tumbuh besar berkat inovasi dan keberanian mengambil risiko, yang tentu dibarengi dengan kesuksesan finansial.
Namun, badai pernah menghantam. Di periode 2023-2024, ia mengaku harus menelan kerugian fantastis hingga Rp 4 miliar. Kombinasi cuaca buruk yang sering hujan dan situasi politik (musim Pilkada dan Pilpres) yang menyita perhatian masyarakat disebutnya sebagai penyebab utama.
“Itulah risiko di bisnis luar ruangan. Semua bisa berubah karena faktor alam dan situasi. Tapi kita harus bangkit,” ujarnya.
Kebangkitannya terlihat nyata. Dari usaha yang awalnya hanya mempekerjakan belasan karyawan, kini Diana Ria telah memberikan napkah bagi ratusan pekerja. Aset wahana yang dikelolanya juga telah berkembang menjadi lebih dari 4 set lengkap.
*Puncak Karya: Gebyar Tahun Baru 2026 di Demak*
Sebagai bentuk syukur dan dedikasi kepada masyarakat tanah kelahirannya, H. Muntohar melalui Diana Ria akan menggelar event spektakuler: “Gebyar Tahun Baru 2026”.
Acara yang digelar dari tanggal 20 hingga 31 Desember 2025 ini dirancang sebagai pusat hiburan lengkap untuk warga Demak. Salah satu tujuannya adalah agar keluarga, anak muda, dan seluruh masyarakat Demak tidak perlu jauh-jauh mencari hiburan ke luar daerah di momen pergantian tahun.
“Kami ingin warga Demak merayakan akhir tahun dengan meriah dan aman, tanpa harus pergi jauh. Semua hiburan terbaik kami sajikan di sini,” jelas Muntohar yang juga Anggota DPRD Demak dari Partai Gerindra ini.
Gebyar Tahun Baru 2026 ini bukan sekadar pasar malam biasa. Diana Ria akan menyediakan paket lengkap wahana hiburan, panggung hiburan yang semarak, serta pertunjukan kembang api yang memukau. Setiap hari, panggung akan diisi oleh penampilan penyanyi dan grup musik.
Puncak acara akan terjadi pada malam tahun baru, 31 Desember 2025, dengan penampilan spesial dari Laluna Band yang dijamin akan memeriahkan detik-detik pergantian tahun.
Dengan gebyar ini, H. Muntohar, tidak hanya menutup tahun dengan karya terbaiknya, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan senyum dan tawa bagi keluarga Indonesia, khususnya warga Demak yang telah mendukung perjalanan panjangnya dari nol. (Red).
Opini
Anggaran Pendidikan Aduhay…
Oleh : Djafar Badjeber
JURNALJAKARTA.COM – Sejak tahun 2009 pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan 20 % di APBN dan APBD ditingkat Propinsi, Kabupaten dan Kota. Tentunya anggaran ini cukup besar untuk peningkatan SDM anak didik.
Komitemen Pemerintah ini patut diapresiasi oleh kita semua, karena anggaran pendidikan Indonesia terbesar di Asia. Meskipun anggaran pendidikan Indonesia cukup besar, Human Capital Index Indonesia tahun 2020 hanya mencapai 0,54. Singapura mencapai 0,88, Vietnam 0,69 dan Malaysia 0,61. PISA (Programme for Internasional Student Assessment) maupun HCI sangat tergantung pada kualitas tenaga pendidik/guru.
Konon peringkat Indonesia kalah dengan negara diatas, karena kualitas pendidik/guru kurang memadai. Guru yang PNS-pun kompetensinya kisaran Skor 50-an dari 100 dan hanya 4 % guru yang dapat Skor 70.
Baru-baru terungkap anggaran Pendidikan dalam APBN Rp 665 Trilyun/satu tahun. Alokasi untuk kepentingan Pendidikan hanya 15% atau Rp 98 Trilyun. Sisanya untuk operasional Diknas dan Depag. Bagaimana akuntabilitas pendidikan dan anggarannya ?
Sebenarnya belanja operasional Diknas dan Depag bisa dihemat atau dipotong dengan lebih memprioritaskan UKT (Uang Kuliah Tunggal ) yang belakangan ini naik gila-gilaan. Kebijakan UKT ini tentu memberatkan Mahasiswa (orang tua).
Apakah kenaikan UKT ini akibat new liberalisasi dan kapitalisme di Kampus, sehingga Pendidikan ikut menjadi korban Liberalisasi dan Kapitalisasi.
Harusnya Pemerintah meringankan beban Mahasiswa, bila perlu subsidi seluruhnya alias gratis.
Saat ini kita sedang dilanda Bonus Demografi, kelompok Milenial dan Gen Z yang membutuhkan lanjutan pendidikan. Mereka punya cita-cita, punya impian, punya mimpi, ingin berhasil, maka jawabannya beri kesempatan yang luas.
Penerintah punya tanggung jawab kepada kelangsungan SDM Indonesia yang kompetitif agar bisa bersaing dipasar Internasional.
Penulis:
– Anggota MPR RI 1987-1992
– Wakil Ketua DPRD DKI 1999-2004
