|
find us on : 
Home > MELITER > Penguatan Alutsista, Pelanggaran Wilayah Udara Nasional Indonesia Turun Signifikan

Penguatan Alutsista, Pelanggaran Wilayah Udara Nasional Indonesia Turun Signifikan

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 23 Desember 2017 | 08:58:03
dibaca | 1396 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Sebagai negara terbesar di regional Asia Tenggara, Indonesia semakin giat memperkuat armada tempurnya untuk menjaga kedaulatan negara dari berbagai ancaman musuh. Penguatan armada tempur yang salah satunya menjadi fokus Indonesia ialah alutsista udara.

Pemerintah Indonesia dan Rusia sepakat melakukan imbal beli dalam pembelian 11 pesawat Sukhoi SU-35 dengan sejumlah komoditas nasional.

Barter tersebut terealisasi setelah ditandatangainya Memorandum of Understanding (MOU) antara BUMN Rusia, Rostec, dengan BUMN Indonesia, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.

Pembelian pesawat ini untuk menggantikan pesawat F-5 dalam meningkatkan pertahanan dan keamanan di dalam negeri.

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsdya TNI Yuyu Sutisna, S.E.,M.M., sekaligus menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) mengatakan, pembelian Sukhoi telah dibahas oleh Kementerian Pertahanan. Kedatangan Sukhoi, kata Yuyu, akan menambah kekuatan armada tempur.

"Saya ingin Sukhoi cepat datang biar tambah kekuatan," ujar Wakasau Marsdya TNI Yuyu pada JurnalJakarta.com usai acara Media Gathering di Markas Kohanudnas, Jumat (22/12).

Dalam kegiatan Media Gathering, Yuyu menjelaskan fungsi dan tugas Kohanudnas dalam melaksanakan pengawasan dan penjagaan wilayah udara nasional Indonesia dari penerbangan pesawat udara yang tidak berizin serta melakukan penindakan terhadap para pelanggarnya.

Untuk pelaksanaan tugas-tugas tersebut Kohanudnas memiliki Satuan-satuan Radar (Satrad) di penjuru tanah air sebagai mata dan telinga untuk mengetahui aktivitas seluruh penerbangan pesawat udara di atas wilayah udara nasional.

Sedangkan satuan jajaran Kohanudnas adalah empat Kosekhanudas (Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional) dan Pusdikhanudnas (Pusat Pendidikan Pertahanan Udara Nasional).

Dalam dua tahun terakhir, 2015-2017, pelanggar wilayah udara nasional Indonesia turun signifikan. Pada tahun 2015, ada 193 pesawat yang terdiri dari 94 pesawat militer dan 99 pesawat sipil. Tahun 2016, terjadi penurunan, hanya 49 (43 sipil dan 6 militer). Dan di tahun ini, 2017, hanya 9 pelanggar wilayah udara (4 sipil dan 5 militer).

"Semenjak bulan Juli, sudah tidak ada lagi pelanggar yang melintas di wilayah udara nasional Indonesia," jelas Yuyu.

Penurunan secara drastis ini menurut Yuyu, karena adanya penambahan pesawat tempur dan ketegasan dari Indonesia. Sehingga negara-negara lain mengetahui ketegasan ini mulai enggan melanggar wilayah udara nasional Indonesia. Mengenai lebih banyak pelanggar dari pesawat militer, dijelaskan, banyak sekali pesawat militer yang melintas di wilayah Darwin, Australia.

Selanjutnya dijelaskan mengenai Flight Information Region (FIR). FIR adalah suatu ruang udara yang ditetapkan dimensinya di mana di dalamnya diberikan Flight Information Service atau jasa pelayanan penerbangan pesawat udara dan Alerting Service atau sistem informasi dini penerbangan.

Yuyu juga menjelaskan tentang 3 FIR wilayah udara yang dikontrol Singapura yakni di wilayah Batam, Natuna dan akan diambilalih oleh Indonesia.

"Namun itu semua jangan lupa ada perizinan dari AIPO. Secara bertahap, dua wilayah FIR nantinya akan ambil Indonesia pada tahun 2018. Dan satu FIR pada tahun 2019," pungkasnya.

Marsdya TNI Yuyu Sutisna, S.E.,M.M., mengundang rekan-rekan media massa yang ada di Jakarta dalam kegiatan Media Gathering di ruang Rusmin Nurjadin, Kohandunas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (22/12).

Media Gathering merupakan sarana silaturahmi dengan media massa guna penyebaran luasan informasi mengenai Kohanudnas dan tugas-tugasnya.

Rangkaian acara Media Gathering meliputi pembukaan, doa, makan siang bersama, sambutan dan paparan Pangkohanudnas, tanya jawab dan foto bersama.

Turut hadir dalam syukuran tersebut Pangkosekhanudnas I Marsma TNI Kustono, S.Sos., dan para pejabat Kohanudnas. (Bgs/JJ)