|
find us on : 
Home > PENDIDIKAN > Program 2018, Kemendikbud Fokus Prioritaskan Anak Yatim

Program 2018, Kemendikbud Fokus Prioritaskan Anak Yatim

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 20 Desember 2017 | 09:21:18
dibaca | 3250 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku memprioritaskan empat program untuk dilaksanakan di 2018. Salah satu fokusnya adalah membantu anak yatim.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, persoalan anak yatim ini menjadi bagian optimalisasi Program Indonesia Pintar (PIP). Dikatakannya, ada sekitar 980 ribu anak yatim yang bakal mendapat bantuan pihaknya melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Menurut dia, gagasan ini datang dari Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu.

"Memberikan fokus pada siswa yatim, baik yang masih dalam keluarga maupun panti asuhan," ucapnya, di Kantor Kemendikbud di Jakarta, Selasa (19/12).

Terobosan, lanjutnya, sudah dilakukan Kemendikbud pada 2017 dan 2018 berupa KIP berbentuk kartu ATM. Artinya, dana yang diterima para siswa dalam PIP bukan berupa uang tunai. Sehingga para siswa bisa menarik saldo sesuai keperluan. Sisanya bisa digunakan sebagai tabungan.

Awalnya, aku dia, ada kesulitan penerapan gagasan KIP berupa ATM tersebut. Terutama di SD yang pesertanya masih di bawah umur. Namun Kemenndikbud melakukan komunikasi dengan OJK dan pihak bank, sehingga seluruh pemegang KIP bisa menerima dana secara non tunai. Hal ini juga, menurutnya, sebagai upaya mewujudkan melek perbankan (banking literacy).

Selain optimalisasi PIP, Muhadjir juga tiga fokus Kemendikbud lainnya. Yakni, Revitalisasi Pendidikan Vokasi atau Kejuruan, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), dan peningkatan mutu Ujian Nasional (UN).

Dalam hal revitalisasi pendidikan vokasi, Kemendikbud mengaku akan melakukannya melalui pembenahan kurikulum SMK agar selaras dengan kebutuhan di dunia usaha dan standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI).

"Salah satu caranya dengan mengevaluasi jurusan-jurusan yang sulit diserap dunia usaha. Pendidikan vokasi akan difokuskan pada maritim, pariwisata, pertanian, dan industri kreatif," Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi menambahkan, di kesempatan yang sama.

Guru-guru vokasi, katanya, juga akan diberikan program keterampilan ganda. Guru-guru pengampu mata pelajaran adaptatif di SMK, seperti matematika, Kimia, Bahasa Indonesia, dan sebagainya, akan diberikan pendidikan keterampilan. Misalnya di SMK Grafika, guru akan diberi pendidikan desain. Sehingga akan memiliki kemampuan mengampu mata pelajaran produktif.

Tentang pendidikan karakter, Kemendikbud juga akan melakukannya lewat Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 agar menjadi gerakan bersama dengan pelibatan dan kerja sama antar sekolah, keluarga, dan masyarakat. Jam kerja guru pun akan disesuaikan dengan jam kerja PNS, yaitu 40 jam per minggu.

"Masalahnya selama ini kan guru dianggap bekerja hanya kalau ada di dalam kelas. Padahal di luar kelas mereka juga melakukan tugas sebagai guru," kata Muhadjir.

Dengan itu, guru tidak harus mengajar di dalam kelas. Pendidikan karakter bisa dibangung di luar ruang. Muhadjir menyampaikan, sistem pendidikan nantinya akan diarahkan untuk belajar dari lingkungan, tidak mesti di dalam ruangan. Dengan adanya penyesuaian jam kerja guru, maka hal ini dimungkinkan.

Soal fokus peningkatan mutu UN, Kemendikbud juga akan mengoptimalisasi pelaksanaan ujian nasional berbasi komputer (UNBK). Pada 2017,.sudah ada 33.448 sekolah yang melaksanakan UNBK.

Dengan kata lain, sudah ada 49% peserta UN yang mengikuti UNBK. Diharapkan tahun depan, kata Muhadjir, bisa terus bertambah. Setidaknya tahun depan, seluruh provinsi bisa ikut menyelenggarakan UNBK. (Red/JJ)