|
find us on : 
Home > EKONOMI > BI Perkuat Kerjasama Dengan Polri Perangi Uang Palsu

BI Perkuat Kerjasama Dengan Polri Perangi Uang Palsu

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 17 November 2017 | 12:48:27
dibaca | 1099 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Bank Indonesia (BI) memperkuat kerja sama dengan Kepolisian RI untuk mendukung perekonomian nasional. Sinergi itu termasuk pertukaran data informasi.

Kemudian, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan penegakan hukum. Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Moechgiyarto mengatakan sinergi ini akan menjadi pedoman antara BI untuk menangani tindak pidana sistem pembayaran dan penukaran uang di penukaran valuta asing (valas) yang memiliki dugaan pelanggaran kewajiban.

"Pelaksanaan ini bertujuan untuk mendukung perekonomian nasional dan stabilitas ekonomi politik di Indonesia," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Jumat (17/11/2017).

Dia mengatakan sepanjang tahun ini BI sudah menangani 328 kasus uang palsu dan menetapkan sebanyak 676 tersangka dengan barang bukti sekitar 250.000 lembar uang palsu di seluruh wilayah Indonesia.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan kasus pemalsuan uang atau kegiatan indikasi penipuan di sistem pembayaran harus dikawal hingga jenjang pengadilan. "Hal ini agar bisa memberikan efek jera kepada pelaku yang memalsukan Rupiah," jelas dia.

Agus mengayakan, selama 3 tahun terakhir pemalsuan uang terus mengalami penurunan. 3 tahun lalu pemalsuan mencapai 23 lembar per satu juta bilyet uang, tahun lalu 13 lembar pel satu juta bilyet uang.

"Terakhir sudah berada di bawah 10 lembar per satu juta bilyet uang, kami harap bisa terus turun. Tapi dibutuhkan kerja sama karena pelaku tidak berhenti berinovasi dengan ide jahat untuk pengedaran uang palsu," ujarnya.

Agus menambahkan, dengan sinergi ini diharapkan inflasi nasional bisa terjaga rendah. Sehingga bisa menjaga pendapatan masyarakat dan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

"Dengan inflasi yang rendah dan stabil maka akan tercipta kepastian yang lebih banyak, karena masyarakat tidak akan tercuri penghasilannya karena harga barang dan jasa yang meningkat sehingga tak terkendali," imbuh dia.

Agus menjelaskan, pada 2015-2016 inflasi lebih rendah yakni di kisaran 3% - 4%, dibandingkan tahun sebelumnya 8,3%. Tahun ini BI memperkirakan inflasi berada di kisaran 3%-3,5%.

"Tahun depan inflasi akan dijaga di angka 3,5%. Meskipun jika dilihat enam tahun terakhir inflasi di Indonesia masih tinggi. Kami yakin inflasi bisa mengarah ke level rendah seperti negara tetangga, Malaysia, Singapura dan Thailand," imbuh dia. (Sri/JJ)