|
find us on : 
Home > NASIONAL > Wapres JK Sebut Keuangan Basis Syariah Hindarkan Krisis Ekonomi

Wapres JK Sebut Keuangan Basis Syariah Hindarkan Krisis Ekonomi

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 09 November 2017 | 22:26:38
dibaca | 307 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut, sistem keuangan berbasis syariah memiliki sejumlah kebaikan bagi perekonomian. Salah satunya, menghindarkan negara dari krisis ekonomi. 

"Dalam pengalaman krisis ekonomi beberapa kali, sistem ekonomi Islam itu tidak pernah krisis karena tidak diperbolehkan spekulasi," ujar JK saat membuka gelaran Indonesia Shari'a Economic Festival (ISEF) ke-4 di Surabaya, Kamis (9/11).

Sistem keuangan syariah menurut dia, mengharamkan untuk mengambil riba tambahan yang dipastikan. Hal itu membuat sistem keuangan syariah lebih tahan terhadap goncangan.

"Harus menjual apa adanya. Karenanya, tidak ada krisis yang dimulai oleh bank syariah," ujarnya. 

Untuk itu, JK pun mendorong dilakukannya percepatan pada perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Menurut JK, perkembangan ekonomi dan ekonomi syariah dapat terwujud dengan meningkatkan aktivitas perdagangan di masyarakat untuk menggerakkan perekonomian.

Hal ini, menurut dia, sesuai dengan salah satu sunah dari Rasul Muhammad saw, yakni berdagang. Untuk itu, JK pun mendorong pesantren mengajarkan santrinya untuk berdagang. 

Terkait penyelenggaran ISEF ke-4, JK berharap hasil-hasil kajian ekonomi syariah yang dipaparkan tidak hanya berhenti sebatas teori. Namun, pihak-pihak terkait harus bersinergi agar dapat diimplementasikan di kehidupan nyata demi kemajuan ekonomi syariah.

Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojomengungkapkan, pihaknya terus mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Untuk itu, BI saat ini terlibat dalam Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang bersama-sama menyusun tiga pilar sebagai strategi utama pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional.

Pertama, pilar pemberdayaan ekonomi syariah yang menitikberatkan pada pengembangan sektoral usaha syariah melalui penguatan seluruh kelompok usaha dan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan lainnya.

Kedua, pilar pendalaman pasar keuangan syariah yang direfleksikan melalui upaya peningkatan manajemen likuiditas serta pembiayaan syariah guna mendukung pengembangan usaha syariah.

Terakhir, pilar penguatan riset dan edukasi termasuk sosialisasi dan komunikasi. Pilar ini ditujukan sebagai landasan bagi tersedianya sumber daya insani yang handal, profesional, dan berdaya saing internasional.

Selain itu, BI juga secara aktif menyelenggarakan kegiatan yang bisa mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah. 

"BI berkontribusi aktif dalam pengembangan platform pengembangan ekonomi syariah," ujarnya.

Salah satunya adalah gelaran ISEF yang merupakan kegiatan tahunan. Di ISEF tahun ini, kegiatan terbagi dalam enam kategori yaitu temu otoritas, temu penggiat ekonomi syariah, seminar dan konferensi, riset dan edukasi serta Shari'a Fair.

Agus mengingatkan, ekonomi dan keuangan syariah merupakan konsep yang inklusif dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam pergerakan roda perekonomian. Tak ayal, sistem ekonomi syariah juga berkembang di negara yang mayoritas penduduknya non Muslim seperti Inggris. (Red/JJ)