|
find us on : 
Home > PILIHAN EDITOR > Mengenal Kisah Bapak AURI, Marsekal TNI Rd. S. Suryadarma

Mengenal Kisah Bapak AURI, Marsekal TNI Rd. S. Suryadarma

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 20 Oktober 2017 | 02:13:36
dibaca | 667 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Tepat 105 Tahun yang lalu di kota Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa Tanggal 6 Desember 1912, lahir seorang anak laki-laki bernama Raden Suryadi Suryadarma, yang kelak menjadi tokoh nasional, perintis dan berkembangnya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga dapat berkembang seperti saat ini. Melalui kepemimpinannya selama 16 tahun (1946-1962), saat menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) yang pertama, TNI AU dapat menjadi salah satu kekuatan udara baru yang disegani negara-negara di kawasan selatan.

Atas jasa-jasanya meletakkan dasar-dasar pertumbuhan dan perkembangan organisasi TNI AU tersebut, Marsekal TNI Hanafie Asnan sebagai KASAU ke-13 (1998-2002) tanggal 20 Juni 2000 menetapkan Marsekal TNI Rd. S. Suryadarma sebagai Bapak AURI. Kemudian pada 7 September 2001, nama Suryadarma juga diabadikan menjadi salah satu nama Pangkalan TNI AU menggantikan nama Lanud Kalijati di Subang, Jawa Barat. Penghormatan lainnya adalah pemasangan patung Rd. S. Suryadarma pada 7 September 2008 oleh Kol Pnb Ras Rendro Bowo S.,S.E., saat menjabat Danlanud Suryadarma di depan kantor utama markas Lanud.

Sementara itu, menurut buku terbitan Departemen Sosial tahun 1985, selama 32 tahun (1946-1968) mengabdi, atas jasa-jasa Marsekal TNI Rd. S. Suryadarma yang luar biasa terhadap negara dan bangsa Indonesia, pemerintah menganugerahi Bintang Mahaputera Adipradana dan 14 macam tanda kehormatan lainnya. Sedangkan dari luar negeri, ia mendapatkan 4 macam tanda kehormatan.

MERINTIS KARIR

Dari catatan sejarah yang ada, Rd. S. Suryadarma merupakan anak dari R. Suryaka Suryadarma pegawai bank di Banyuwangi. Sejak kecil Ia ditinggal ibunya karena meninggal, pada usia 5 tahun bapaknya juga meninggal. Akibatnya Rd. S. Suryadarma menjadi yatim piatu dan diboyong keluarga kakeknya ke Jakarta. Sejak itu, ia diasuh kakeknya Dr. Pangeran Boi Suryadarma, dokter lulusan Sekolah Dokter Jawa.

Latar belakang keluarganya yang berpendidikan tinggi dan bangsawan Kraton Kanoman, Cirebon tersebut memudahkan Suryadarma untuk bersekolah. Sekolah umum pertamanya adalah sekolah dasar khusus anak-anak keturunan Eropa dan Cina yaitu Eropese Leger School (ELS) tahun 1918. ELS menerapkan syarat-syarat khusus yaitu hanya keturunan bangsawan dan anak pejabat saja yang dapat memasukinya.

Pada tahun 1926, Suryadarma lulus dapat dari ELS. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Hogere Burgere School (HBS) di Bandung. Sebelum menamatkan HBS, ia harus berpindah ke Jakarta untuk bersekolah di KWS-III yang ditempuh selama 5 tahun. Cita-cita yang tertanam dibenaknya sejak kecil adalah sebagai penerbang, oleh karena itu untuk dapat menjadi penerbang ia harus mengikuti pendidikan perwira atau Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda. Pada awalnya kakeknya keberatan Suryadarma menjadi anggota militer, namun setelah dijelaskan bahwa pendidikan perwira merupakan batu loncatan untuk menjadi penerbang, barulah kakeknya memahami. Selanjutnya Suryadarma mendaftarkan ke KMA Breda dan diterima sebagai kadet tahun 1931.

Selama tiga tahun menempuh pendidikan di KMA, pada September 1934, Suryadarma lulus dan dilantik sebagai perwira berpangkat letnan dua. Penempatan pertamanya adalah di Nijmigen, Belanda. Namun pada Oktober 1934 ia dipindahkan ke Batalyon I Infanteri di Magelang hingga November 1936. Pada Desember 1936, Suryadarma dipindahkan ke Bagian Penerbangan di Bandung. Hal ini seperti lampu hijau bagi keinginan Suryadarma untuk menjadi penerbang. Namun ternyata untuk menjadi penerbang Koninlijke Nederlands Indhische Leger (KNIL) harus melalui beberapa tahap seperti tes masuk, memiliki ijazah KMA, tes kesehatan dan persyaratan lainnya. Selama dua kali Suryadarma mengikuti tes dan gagal dengan alasan menderita sakit malaria, namun dengan kemauannya yang keras dan tidak putus asa. Maka pada tes ketiga ia lulus dan pada Desember 1937 menjadi siswa penerbang pada vliegschool di Kalijati, Subang selama enam bulan.

Lulus dari vliegschool, Suryadarma oleh pihak Belanda tidak diberikan brevet penerbang karena salah satu politik diskriminasinya tidak mengijinkan pribumi menjadi penerbang. Ia hanya diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian sebagai navigator, dilanjutkan ujian instruktur pada Vlieg dan Warmerschool. Maka ia kemudian bekerja sebagai instruktur. Pendidikan berikutnya sebagai kesempatan baik adalah bersekolah di Waarnemerschool (Sekolah Pengintai atau Navigator) Juli 1938. Setelah setahun menjalani pendidikan, ia mendapat penempatan baru pada Kesatuan Pembom Glenn Martin di Andir Bandung. Sejak itu profesi sebagai navigator penerbang Angkatan Darat Belanda telah disandangnya, sehingga penugasannya di satuan-satuan penerbangan Angkatan Darat. Sehingga pada 1941 ia kembali mendapat penugasan sebagai instruktur pada Sekolah Penerbang dan Pengintai di Kalijati selama setahun. Menjelang kedatangan Jepang, Suryadarma bertugas kembali pada kesatuan pembom. Masa Jepang berkuasa, Suryadarma sempat bekerja sebagai polisi di Bandung ajakan kenalan baiknya Komisaris Polisi Yusuf.

PENGABDIAN DI AURI

Setelah kemerdekaan Indonesia berkumandang, Suryadarma mulai mengikuti gejolak revolusi bangsa untuk turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran awalnya adalah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bandung, September 1945. Tidak beberapa lama datang panggilan dari Urip Sumohardjo dari Markas Tertinggi Tentara di Yogyakarta untuk membentuk Angkatan Udara Republik Indonesia. Awalnya rekan-rekan BKR Bandung keberatan karena Suryadarma masih dibutuhkan, namun setelah dua kali ditelegram akhirnya Suryadarma ke Yogyakarta.

Pada 12 November 1946, dalam konferensi TKR Kepala Staf Umum, Letnan Jenderal Urip Sumohardjo menyatakan akan dibentuk bagian penerbangan TKR dengan kepala dan wakilnya Suryadarma dan Sukarnen Martokusumo. Sejak itu pangkalan-pangkalan udara yang sebelumnya dikuasai TKR diserahkan kepada TKR bagian penerbangan. Selanjutnya Suryadarma melakukan konsolidasi untuk menyusun kekuatan udara, oleh karena itu dihubungilah para personel mantan Sekolah penerbang di Kalijati diantaranya Adi Sutjipto di Salatiga.

Mengingat bidang tugas yang banyak, dilakukan pula pemanggilan lewat media massa terhadap mantan anggota penerbangan angkatan darat dan laut Belanda yang pernah bekerja pada penerbangan Jepang. Saat itu terdapat tiga hal sebagai prioritas kerja Suryadarma yaitu konsolidasi organisasi pusat, mempersiapkan unsur udara dalam operasi perjuangan kemerdekaan dan akan diadakan pendidikan ulangan.

Agar memiliki armada udara, maka diadakanlah perbaikan terhadap pesawat-pesawat tua peninggalan Jepang jenis latih, pemburu, pembom, pengintai dan lainnya. Pada 27 Oktober 1945, untuk pertama kalinya para juru teknik TKR bagian penerbangan mampu memperbaiki sebuah pesawat latih "CURENG" yang berbendera merah putih dan dapat mengudara di atas Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Sejak itu berbagai upaya penerbangan oleh TKR bagian penerbangan dilaksanakan ke berbagai daerah untuk membuktikan adanya kekuatan udara Indonesia. Selanjutnya setelah perubahan nama TKR menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) pada 24 Januari 1946, tiga bulan kemudian tepatnya 9 April 1946, keluar Penetapan Presiden (Perpres) tentang perubahan status yaitu TRI Jawatan Penerbangan menjadi TRI Angkatan Udara. Perpres tersebut diantaranya menetapkan S. Suryadarma sebagai KASAU dengan pangkat Komodor Udara (setingkat Mayor Jenderal), juga penyesuaian tanda pangkat bagi anggota-anggotanya. Sedangkan panji-panjinya diresmikan Presiden RI tanggal 5 Oktober 1946 di Alun-alun Yogyakarta. Maka sejak itu diadakan penyesuaian berupa penyempurnaan organisasi, perkantoran dan lainnya. Perpres tersebut akhirnya menjadi dasar bagi kelahiran Angkatan Udara di kemudian hari karena terbentuknya wadah yang resmi serta eksistensi Angkatan Udara sebagai unsur kekuatan di tubuh Angkatan Bersenjata Indonesia diakui keberadaannya oleh pemerintah.

Dinamika pemerintahan pada tahun-tahun awal kemerdekaan yang begitu dinamis juga niat Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia melalui agresi militer pertamanya (21 Juli 1947) dan agresi militer kedua (19 Desember 1948) turut berpengaruh besar pada peran Angkatan Udara. Pada agresi ke-2 Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta dibom pesawat Belanda yang mengakibatkan gugurnya tiga personel Angkatan Udara. Selanjutnya ketegangan Belanda-Indonesia tersebut berusaha dicarikan jalan keluar oleh kedua belah pihak melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949 di Den Haag, Belanda. Suryadarma saat itu berperan sebagai penasehat militer Indonesia. Akhirnya dalam KMB Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan pemerintahan Indonesia. Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda, Suryadarma menerima pula penyerahan Markas Besar Angkatan Udara Belanda (Koninkelijke Militaire Luchtvaart) dari Jenderal Van der Eeen di Merdeka Barat Jakarta sebagai puncak dari penyerahan seluruh unsur Angkatan Udara Belanda di seluruh penjuru tanah air ke AURI.

Dengan berakhirnya campur tangan Belanda di Indonesia, sejak tahun 1950 Komodor Suryadarma sebagai KASAU mulai membangun organisasi AURI diantaranya dengan pelaksanaan program pendidikan dan latihan, menata organisasi kekuatan udara, mendukung pelaksanaan operasi keamanan di dalam negeri dan juga upaya penambahan alat utama sistem senjata (Alutsista).

Dalam program pendidikan diantaranya dilaksanakan pengiriman tugas belajar ke Amerika Serikat bagi 60 calon penerbang agar dapat mempercepat kekurangan tenaga penerbang Indonesia. Di samping itu beberapa program kerja AURI lainnya semasa KASAU Suryadarma adalah perintisan dan pengembangan Pasukan Gerak Cepat, perubahan nama pangkalan udara dengan menggunakan nama-nama pahlawan AURI pada 17 Agustus 1952, turut dalam penumpasan pemberontak di Indonesia sejak 1950-1961. Kiprah lainnya adalah terdapat beberapa jabatan rangkap yang diemban Suryadarma yaitu mulai 1 November 1956 sebagai perwira staf teknik dan perwira staf umum, pada 5 Desember 1957. Selanjutnya dalam segi kepangkatannya pada 9 Juli 1958 berdasarkan Keputusan Presiden pangkatnya naik satu tingkat menjadi Marsekal Madya dan setahun kemudian pangkatnya menjadi bintang empat (Marsekal).

Pada masa berkobarnya perjuangan mengembalikan Irian Barat ke Ibu Pertiwi tahun 1962, terjadi pergantian pimpinan AURI dari Marsekal Suryadarma kepada Marsekal Muda Omar Dhani. Selanjutnya ia, menjabat sebagai menteri penasihat militer presiden. Selama tiga tahun jabatan tersebut disandangnya, selanjutnya pada tahun 15 september 1966 jabatannya adalah Perwira Tinggi diperbantukan pada Menteri/Panglima Angkatan Udara, selama dua tahun. Akhirnya pada 13 Desember 1968, Marsekal Suryadarma diperhentikan dengan hormat dengan hak pensiun.

AKHIR PENGABDIAN

Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, koleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain. Menginjak di usia ke 63 tahun, kesehatannya mulai menurun dan mengidap sakit komplikasi liver. Pada minggu kedua Agustus 1975, Suryadarma mulai dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta selama seminggu.

Akhirnya atas kehendak Tuhan Suryadarma meninggal dunia pada pukul 05.45 WIB pada Hari Sabtu tanggal 16 Agustus 1975. Jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka dan di Markas Besar TNI AU Jalan Gatot Subroto. Pemakamannya dilaksanakan pada 17 Agustus pukul 13.00 WIB di Pemakaman Umum Karet, Jakarta secara militer dengan Inspektur Upacara KASAU Marsekal TNI Saleh Basarah.

Sejak awal kehadirannya di dunia, Suryadarma yang terkenal dengan mottonya :

"Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air",

mungkin telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi warga negara Indonesia guna memelopori tumbuh dan berkembangnya AURI. Hal ini terbukti dari beberapa tantangan dan hambatan dalam perjalanan hidupnya yang cukup besar namun tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap berkemauan keras menjadi penerbang militer sebagai profesi dalam hidupnya. Gayungpun bersambut, seiring dengan terbentuknya negara Republik Indonesia pada tahun 1945, juga TKR dan TKR Udara yang membutuhkan kehadiran penerbang pribumi, munculah Suryadarma yang turut "membidani" lahirnya AURI. (Bgs)