|
find us on : 
Home > EKONOMI > Pemerintah Tambah Porsi Saham di Garuda Indonesia

Pemerintah Tambah Porsi Saham di Garuda Indonesia

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 06 Desember 2016 | 13:26:47
dibaca | 6589 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bakal melaksanakan penambahan modal melalui Penyertaan Modal Negara Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMN THMETD). Sebelumnya, hal ini telah mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 12 Desember 2014 yang lalu. Disebutkan, jumlah saham tambahan yang akan dicatatkan adalah 17.649.621 lembar saham dengan Harga Pelaksanaan adalah Rp476.

Dalam siaran persnya di Jakarta, perseroan mengungkapkan, saham baru tersebut bakal diterbitkan dan didistribusikan per tanggal 8 Desember 2016 yang akan datang, disusul dengan pencatatan saham baru di bursa per tanggal 9 Desember mendatang. Dengan ini artinya mereka bakal mendapat tambahan permodalan hingga Rp8,4 miliar.

Hal ini juga mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2016 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Garuda Indonesia Tbk. Nah dengan adanya hal ini, artinya kepemilikan Pemerintah atas saham Garuda bertambah dari 60,509% menjadi 60,536%.

Sebagai informasi, Garuda Indonesia berencana menerbitkan obligasi pada 2017sebagai salah satu alternatif pembiayaan pembelian pesawat serta modal kerja. Sebab, perseroan membutuhkan pinjaman jangka panjang. Kinerja perseroan sendiri belum lepas dari kerugian. Tercatat rugi bersih pada priode Januari-September 2016 sebesar USD43,6 juta, dibandingkan periode serupa tahun lalu yang meraup laba USD51,4 juta.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Arif Wibowo pernah bilang, tahun ini menjadi tahun yang terberat bagi Garuda Indonesia karena belum mampu terlepas dari rugi di kuartal ketiga tahun ini. "Rugi yang didapat perseroan disebabkan turunnya pendapatan penerbangan tidak berjadwal selama sembilan bulan pertama tahun ini sekitar 17,7% atau menjadi USD145,2 juta dari USD176,4 juta pada periode serupa tahun lalu," ujarnya. (Sry/JJ)