|
find us on : 
Home > LIPUTAN KHUSUS > Rony Terseok-seok, PEP Melorot

Rony Terseok-seok, PEP Melorot

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 21 September 2016 | 11:24:46
dibaca | 3718 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Rony Gunawan adalah satu-satunya Presiden Direktur Pertamina EP (PEP) yang terseok-seok dari segi performance dibandingkan para pendahulunya.

Makanya tidak heran jika yang bersangkutan gerah dengan kursi empuk yang didudukinya sekarang ini. Sehingga, kalau ada pepatah yang mengatakan "tidak ada rotan maka akarpun jadi". Upaya itulah yang saat ini dilakukan oleh Rony untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tembakan dia sudah kemana-mana, sampai akhirnya "menghire" penulis untuk bernyanyi tanpa data dan melukiskan betapa hebatnya Rony ini di PEP.

Padahal fakta membuktikan sebaliknya. Pertamina EP di bawah kepemimpinan (leadership) Rony saat ini hanya mampu memproduksi minyak mentah di kisaran 80.000 bopd.

Angka performance ini sangat jauh di bawah leadership Presdir sebelumnya Syamsu Alam. Dimana rata-rata produksi sekitar 117.000-123.000 bopd. Bahkan sempat berberapa kali puncaknya menembus angka 130.000 bopd.

Kok bisa sekarang produksi di level 80.000 bopd ? Hal ini tentu terkait dengan cara-cara Rony dalam pengambilan kebijakan di level operasional pun banyak dipertanyakan oleh para bawahannya.

Program yang dijabarkan Rony terlihat tanpa pemikiran dan analisa yang matang. PEP yang mempunyai lapangan-lapangan tua memerlukan obat yang cermat dan cerdik untuk mengelola nya.

Beberapa program krusial di pangkas oleh Rony karena alasan pengiritan. Beberapa solusi sifatnya hanya insidentil responsif yang berdampak pada short term. Justru yang menjadikan PEP babak belur pada long term-nya. Tidak perlu menunggu terlalu lama, hanya dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun, produksi PEP anjlok tak tertolong.

Performance Rony yang amburadul ini menjadikan kursinya panas. Untuk mencari simpati, Rony mulai mengumbar cerita "pilu" di depan para Serikat Pekerja dengan membuat kesan bahwa dia orang yang terdzalimi karena menentang atasan sehingga beresiko akan dipecat.

Kenyataan sebenarnya adalah performance dia yang membawa PEP ke ambang keruntuhan.

Kondisi ini menuntut perbaikan kinerja dengan menempatkan orang terbaik untuk mengelola anak perusahaan kebanggaan PT Pertamina ini. Sebagai bagian untuk merealisasikan visi kemandirian energi nasional.

Penulis: AC Rachman, Direktur Lembaga Kajian dan Advokasi Energi dan Sumber Daya Alam (LKA ESDA)