|
find us on : 
Home > EKONOMI > Impor Beras Mencapai 500 Ribu Ton, Mendag Dorong MoU dengan Pakistan

Impor Beras Mencapai 500 Ribu Ton, Mendag Dorong MoU dengan Pakistan

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 19 November 2015 | 06:54:40
dibaca | 7696 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong menyampaikan, pemerintah tengah mendorong penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan Pemerintah Pakistan terkait rencana Indonesia mengimpor beras yang diperkirakan mencapai 500 ribu ton.

Ia mengatakan, kami masih kejar MoU dengan Pakistan supaya ada payung G2G. Setelah itu, baru Perum Bulog bisa mengirim tim inspeksi dan melakukan verifikasi serta negosiasi," kata Thomas Lembong di sela APEC Summit 2015, di Manila, kemarin.

Menurut Thomas, berdasarkan informasi Duta Besar Pakistan, negara tersebut mampu memasok 500 ribu ton beras. Namun, beras impor itu kemungkinan tidak bisa masuk ke Indonesia tahun ini. "Mungkin akan masuk pada 2016 karena sekarang sudah pertengahan November. Tahun 2015 kan tinggal tersisa kurang lebih enam minggu lagi. Padahal, impor itu butuh persiapan, seperti negosiasi, inspeksi, pencarian kapal, dan pengiriman," paparnya.

Lebih lanjut Mendag menjelaskan, untuk masalah harga, pihaknya belum mendapatkan informasi harga beras impor dari Pakistan. Namun, kualitas beras Pakistan yang akan digunakan sebagai stok sama dengan beras Vietnam atau Thailand.

Mengenai apakah pada 2016 juga dilakukan impor beras untuk menjamin pasokan di pasar, Mendag mengungkapkan, dirinya masih menunggu hasil rapat koordinasi. "Keputusan pemerintah untuk mengimpor beras atau tidak, juga akan menjadi pertimbangan terkait dampak El Nino," ucap dia.

Kecuali itu, menurut Thomas Lembong, market intelligence diharapkan berperan lebih, bahkan bisa mencari pasokan dari Brasil. Di sisi lain, Bulog juga berinisiatif mencari pasokan beras dari Myanmar dan Kamboja. "Kami harus gesit dan proaktif mencari sumber pemasok beras," tandas dia.

Rencana pemerintah mengimpor beras dari Pakistan mencuat setelah pemerintah mengakui keputusan mengimpor beras yang akan digunakan untuk memperkuat stok sedikit terlambat. Akibatnya, pasokan dari Vietnam dan Thailand relatif minim. Pemerintah berencana mengimpor 1,5 juta ton beras dari Vietnam dan Thailand. Tapi akibat terlambat mengantisipasi dan mengambil keputusan, stok beras di negara eksportir sudah menipis. Itu terjadi karena Filipina telah melakukan pembelian dalam jumlah cukup besar, sehingga menyebabkan harga beras naik.

Sebelum Indonesia memutuskan untuk mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand, Filipina telah membeli 1,5 juta ton beras dari kedua Negara tersebut. Angka itu melonjak cukup tinggi. Dalam kondisi normal, impor beras Filipina hanya 500-700 ribu ton.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, pada Rabu (18/11), harga rata-rata nasional beras kualitas medium mencapai Rp 10.536,23 per kg, naik dibandingkan harga pekan lalu Rp 10.472,01 per kg. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2015 rata-rata harga beras kualitas medium di tingkat penggilingan naik 0,24% menjadi Rp 8.960,96 per kg disbanding pada September 2015 sebesar Rp 8.939,61 per kg.(Red/JJ)