|
find us on : 
Home > NUSANTARA > Sebagai Cagar Budaya Indonesia, Menara ATC Kemayoran Masuk Konten Festival Indonesia Maju

Sebagai Cagar Budaya Indonesia, Menara ATC Kemayoran Masuk Konten Festival Indonesia Maju

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 24 Agustus 2019 | 14:35:34
dibaca | 595 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Menara Air Traffic Control (ATC) merupakan menara ATC pertama di Asia Tenggara dan dikenal dengan sebutan menara Kemayoran atau menara Tintin. Kini menara tintin ikut dalam konten pada Festival Indonesia Maju.

Sebagai satuan kerja Kemensetneg, Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran) menampilkan ATC dalam acara pameran aksara lintas masa istana. Dengan tema yang diangkat adalah "Bandara Kemayoran Membangun Peradaban".

Hal tersebut diungkapkan Dirut Utama PPK Kemayoran Medi Kristianto kepada wartawan usai pembukaan acara Festival Indonesia Maju di Area Gelora Bung Karno Jakarta Kamis (22/8/2019).

Menurut Medi, Menara ATC Kemayoran sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 tahun 1993, dengan sebutan Menara Kemayoran," tuturnya.

Sebelumnya ungkap Medi, Menara ATC Kemayoran berfungsi sebagai pemandu lalu lintas penerbangan di udara. Menara ATC ini digunakan untuk mengawasi radio komunikasi antara pengawas penerbangan dengan pilot agar proses navigasi pesawat yang menuju ataupun keluar dari bandara Kemayoran berada pada jalur yang benar.

Tidak hanya sebagai bandara internasional pertama di Indonesia, Bandara Kemayoran pun dikenal di dunia karena tampil dalam buku komik legendaris Tintin dengan judul "Flight 714".

Komik yang ditulis oleh Herge, penulis asal Belgia, tersebut menceritakan tentang rombongan Tintin yang sedang singgah di Bandara Kemayoran, Jakarta, sebelum tiba di tujuan terakhir di Sydney, Australia.

Cerita petualangan Tintin berjudul Flight 7141 Tintin, Snowy, Kapten Haddock dan Professor Calculus, mendarat di Bandar Udara Internasional Kemayoran, Jakarta, untuk pemberhentian terakhir penerbangan 714 dari London sebelum menuju ke Sydney," ungkapnya.

Selain itu PPK Kemayoran juga memperkenalkan tiga karya relief, yang merupakan permintaan langsung oleh Presiden Soekarno. Karya yang dibuat pada tahun 1957 ini berhasil menjadi mahakarya yang dibuat oleh para seniman Indonesia.

Tiga relief tersebut adalah:

 1. Relief Sangkuriang, Relief pertama yang ada di terminal VIP eks bandara Kemayoran berada di lantai 1 dengan tema "Sangkuriang". Berukuran panjang 13 meter dan tinggi 3 meter, karya ini dibuat langsung oleh Surono.

 "Jika mengunjungi relief ini, pengunjung dapat langsung melihat bagaimana kisah legenda sangkuriang yang berasal dari Jawa Barat ditampilkan. Walau bertemakan Sangkuriang namun dari relief tersebut juga dapat dilihat dengan jelas gambaran beberapa kisah cerita rakyat yang melegenda di nusantara," kata Medi.

2. Relief Manusia Indonesia

Relief bertemakan Manusia Indonesia yang terletak dilantai 2 ruang tunggu VIP Bandara Kemayoran karya Sindoedarsono Sudjojono berukuran panjang 10 meter dan tinggi 3 meter. Karya ini bertemakan "Manusia Indonesia". Relief ini berusaha untuk menceritakan tentang masyarakat Indonesia dengan aktivitas disetiap fase perkembangan masyarakat kala itu.

3. Relief Flora dan Fauna

Relief ini merupakan karya Harijadi Sumodidjojo dengan ukuran panjang 10 meter dan tinggi 3 meter terletak dilantai 2 ruang tunggu VIP Bandara Kemayoran.

Ketiga relief yang ada secara langsung dipahat pada dinding terminal VIP eks Bandara Kemayoran. Hingga kini bangunan bandara sedang dalam proses untuk dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Berbagai kegiatan telah dilakukan dalam upaya ini salah satunya dengan menggelar pameran konservasi karya seni rupa di ruang publik bersama Kemendikbud untuk mengapresiasi 3 karya seni relief eks bandara kemayoran tersebut.

Medi berharap Masyarakat umum bisa melihat secara langsung dan gratis, sehingga bisa memperkenalkan arsip - arsip yang belum pernah di ketahui oleh masyarakat luas," pungkasnya.

BERITA TERKAIT :