|
find us on : 
Home > PILIHAN EDITOR > Perang Modern: Hadirnya Ancaman Cyberspace dalam Kedaulatan Bangsa

Perang Modern: Hadirnya Ancaman Cyberspace dalam Kedaulatan Bangsa

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 19 Agustus 2019 | 16:33:34
dibaca | 649 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Dimensi kedirgantaraan yang jadi ruang pengabdian TNI AU, akan terus berkembang dengan spektrum yang makin cepat, luas dan signifikan. Saat ini, wilayah udara bukan lagi lahan kosong yang tidak bermakna, melainkan menjadi bagian wilayah yang sangat menentukan bagi kedaulatan suatu negara, kepentingan nasional dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Hal ini mengandung arti pemanfaatan dan penggunaan ruang udara merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi tercapainya kepentingan suatu negara.

Kekuatan udara jadi hal penting yang harus dikelola secara bersama-sama, agar mampu mengontrol seluruh ruang udara nasionalnya. Karena untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, secara mutlak perlu didukung oleh kekuatan udara yang kapabel.

Hal ini mengisyaratkan, perang di masa depan tidak bisa lepas dari kekuatan udara, air supremacy menjadi faktor penentu dalam memenangkan perang, namun demikian sangat diperlukan kesinambungan kerjasama antar matra melalui cara pandang multi-domain integration.

Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna S.E., M.M., untuk menyiapkan Angkatan Udara yang powerful dan bersinergi dalam multi-domain integration, diperlukan pengawakan organisasi yang mampu menghadapi cyber war dan space war.

"Multi-domain integration mengharuskan semua matra TNI secara alami dan intensif mengaplikasikan budaya strategis dalam strata taktis. Sistem komando dan kendali harus membuka peluang bagi seluruh jajaran Angkatan Udara untuk memberikan bottom-up innovation dan memberikan inisiatifnya untuk mendapatkan sistem yang teruji", kata Kasau dalam sambutannya di Seminar Nasional Passis Sekkau A-104 2018 lalu.

Beliau menjelaskan bahwa, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan Alutsista Udara rentan terhadap ancaman Cyber Warfare dan Cyber Defence, sehingga Angkatan Udara harus melengkapi kemampuannya untuk beradaptasi dalam semua level peperangan masa depan yang memadukan domain darat, laut, udara dan cyber serta space.

Dengan demikian setiap prajurit Angkatan Udara harus memiliki spirit, tekad dan komitmen yang kuat dengan tetap bertumpu kepada jati diri sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional. Profesionalisme yang didukung dengan efektifitas komando, pengendalian dan pemberdayaan inovasi segenap personil akan mendorong keberhasilan tugas Angkatan Udara.

Dalam konteks yang lebih luas dan modern, kedaulatan suatu bangsa pada saat ini tidak hanya dalam ruang lingkup tanah, air dan udara. Tapi juga memasuki kedaulatan di jagad maya (cyberspace).

Kedaulatan cyberspace saat ini perlu diperhitungkan. Sebab dunia modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sudah menjadikan ranah teknologi sebagai metode baru dalam peperangan (cyber warfare). Perang cyber yang disebut sebagai perang modern ini juga dipandang sebagai ancaman baru terhadap keamanan dan ketertiban dunia.

Salah satu perang cyber yang menarik perhatian dunia adalah serangan yang dilakukan Rusia terhadap Estonia pada 10 Mei 2007 lalu. Serangan cyber Rusia telah melumpuhkan situs kepresidenan, jaringan keuangan, hingga situs berita. Kasus lainnya yang diduga serangan cyber Israel berupa malware Stuxnet terjadi di pangkalan misil Iran pada 12 November 2011. Hal itu diperkuat dengan pengakuan mantan kepala staf Israel Defense Forces (IDF) bahwa Stuxnet merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.

Bahkan, Gedung Putih yang memiliki infrastuktur pertahanan cyber mumpuni juga tak luput dari serangan serdadu cyber. Ada dugaan, serangan dilakukan oleh para hacker asal Cina yang memang tengah gencar mengincar fasilitas-fasilitas pertahanan AS. Serangan cyber oleh hacker Cina meningkat dalam beberapa bulan belakangan, terutama terhadap fasilitas militer AS di Pentagon. Bahkan hacker Cina juga menyerang Google dengan membobol akun Gmail pejabat pemerintah AS dan personel militer.

Berdasarkan data ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure) tahun 2011 lalu, rata-rata jumlah insiden serangan cyber per hari pada tahun 2010 lalu mencapai 1,1 juta insiden dan aktivitas ini cenderung akan semakin meningkat. Terutama pada situasi geopolitik tertentu dan 50% di antara insiden tersebut tergolong high priority alert.

Cyber menjadi garis depan pertempuran

Dijadikannya cyberspace sebagai matra perang kelima cukup beralasan, karena semua negara pasti ingin meningkatkan kemampuan untuk mengamankan diri dari serangan musuh. Sebab kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini akan menjadi landasan penting bagi pengembangan doktrin militer di masa mendatang. Dengan demikian teknologi informasi dan komunikasi akan sangat mempengaruhi perubahan strategi militer.

Deputi Menteri Pertahanan AS William J. Lynn (2010) menyatakan bahwa Pentagon telah secara resmi mengakui dunia maya sebagai domain baru dalam perang. Domain tersebut sama pentingnya dengan darat, laut, udara, dan ruang angkasa dan dioperasikan secara doktrinal militer. Sebab skala ancaman cyberwarfare untuk keamanan nasional dan ekonomi AS sangat jelas terlihat, sehingga Pentagon membangun pertahanan berlapis dan kuat di sekitar jaringan militer dan meresmikan U.S. Cyber Command untuk mengintegrasikan operasi cyberdefense di militer.

Karena itulah banyak negara kini telah membangun inisiatif National Cyber Security yang bertugas untuk menyusun aturan dan kebijakan nasional menyangkut upaya pengamanan sumber daya informasi, perlindungan infrastruktur strategis dan mengembangkan kemampuan respon serta koordinasi lintas sektoral.
Pertahanan militer berbasis cyber penting bagi Indonesia. Karena di negara ini semakin banyak infrastruktur strategis dan layanan publik yang bergantung pada sistem informasi, teknologi dan jaringan internet. Sehingga rentan terhadap ancaman, gangguan dan serangan dari pihak lain. Seperti sistem transmisi dan distribusi energi, sistem pertahanan udara, sistem transportasi, layanan publik, perbankan dan sebagainya.

Dalam membangun kekuatan pertahanan cyber ini, berbagai keahlian yang perlu dimiliki misalnya di bidang strategi keamanan dan pengamanan serta serangan informasi (information security and warfare), ahli meretas (hacking), spionase (espionage), forensik digital (digital forensic) dan analis keamanan jaringan (network security analyst).

Melihat berbagai realitas tersebut, dapat disimpulkan ketika logika perang mengalami perubahan dari konvensional menuju perang cyber, maka TNI pun dituntut kesiapannya mengimplementasikan teknologi perang modern guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ditambah lagi saat ini semakin banyak infrastruktur kritikal Indonesia yang bergantung pada teknologi elektromagnetik dan teknologi informasi dan komunikasi. Kalau infrastruktur komando pasukan cyber tidak disiapkan sejak dini, maka dikhawatirkan Indonesia berada di posisi inferior dan tidak memiliki posisi tawar dalam percaturan sistem pertahanan dunia modern masa mendatang.

Sebagai institusi yang kinerjanya sangat terkait dengan penggunaan Teknologi Informasi (IT), TNI Angkatan Udara perlu mewaspadai kejahatan dan ancaman dunia maya (cyber space). Ancaman di dunia maya, pada era perang modern dewasa ini makin terasa seiring dengan pesatnya perkembangan IT.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M., mengungkapkan, mencermati kejahatan dan ancaman di dunia maya yang makin meningkat, jajaran TNI AU harus berperan aktif mengantisipasi dampak negatif perang siber (cyber warfare).

Untuk itu selain mahir dan profesional menggunakan alutsista, TNI AU juga harus memiliki kemampuan yang andal dalam menghadapi ancaman dunia maya (cyber space).

Kasau menambahkan, saat ini, sifat dan bentuk ancaman dalam perang modern lebih dominan digerakkan oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

“Berbagai upaya dan mekanisme harus dilakukan guna melindungi dan meniadakan gangguan terhadap kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), ketersediaan (availability) sistem data dan informasi infrastruktur nasional serta menyiapkan strategi serangan balik baik secara siber maupun secara fisik,” ujar Kasau.

Perang dunia maya atau cyber warfare merupakan suatu bentuk ancaman sekaligus tantangan baru yang hendaknya dapat disikapi dengan penuh kewaspadaan dan antisipasi secara dini agar tidak terjadi kerawanan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurut dia, perang siber menggunakan komputer dan internet dengan memanfaatkan dunia maya melakukan penetrasi terhadap jaringan komputer negara lain dengan tujuan menyerang sistem informasi lawannya.

Ancaman dan serangan siber itu meliputi seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, diantaranya, aspek ideologi, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta lainnya.

Oleh karena itu, sistem dan strategi pertahanan negara harus. memperhatikan perkembangan global terutama perubahan sifat perang.

"Sifat dan bentuk perang modern saat ini lebih dominan digerakkan oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perang modern tidak lagi didominasi perang teritorial dengan konsep perang gerilya, melainkan perang yang melumpuhkan sistem keuangan, sistem perbankan dan infrastruktur," ucapnya.

Ia menambahkan, segala bentuk upaya harus terus dilakukan untuk melindungi dan mengatasi gangguan terhadap kerahasiaan, integritas, ketersediaan sistem data dan infrastruktur nasional serta menyiapkan strategi serangan balik.

"Mekanisme ini harus mampu melindungi sistem data dan informasi infrastruktur nasional dari serangan siber yang dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa," kata Kasau ke-22 ini.

Selain itu, Komandan Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) Kolonel Pnb Esron S.B. Sinaga, S.Sos., M.A., juga berpendapat bahwa, pemerintah perlu menyusun rencana strategi pertahanan dan keamanan siber nasional untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan operasi siber demi mendukung pertahanan negara.

"Trend ancaman siber akan terus berlanjut sesuai perkembangan teknologi, sehingga perlu dilakukan riset secara terus menerus untuk mampu mengatasi berbagai teknik, taktik dan strategi pertahanan keamanan siber yang dihadapi di masa yang akan datang," kata Esron.

Beliau juga mengatakan bahwa perkembangan lingkungan strategis yang disertai peningkatan kebutuhan manusia disegala aspek kehidupan, memicu adanya peningkatan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang dapat membawa berbagai implikasi kompleks dalam kehidupan manusia dan hubungan antar Negara, sehingga dapat menimbulkan dampak multidimensional yang mempengaruhi kondisi politik, ekonomi, social, budaya, pertahanan dan keamanan serta geopolitik dan geostrategi global.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0 didasarkan pada teknologi canggih otomatisasi seperti kecerdasan buatan, Internet of Things, Driverless Cars, Smart Robotics dan teknologi pertukaran data turut mengubah ancaman dibidang pertahanan dan keamanan menjadi semakin kompleks. Hal ini merupakan suatu tantangan bagi TNI maupun komponen bangsa lainnya untuk selalu meningkatkan kemampuannya terhadap perkembangan teknologi tersebut.

Hal itu juga diutarakan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto S.I.P., yang mengatakan bahwa, Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, telah muncul kelompok baru yaitu "Cyber Narcoterorism" yaitu kelompok yang menggunakan dunia maya sebagai wahana untuk mengedarkan dan menyalahgunakan Narkotika yang hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme.

Beliau mengungkapkan bahwa kelompok "Cyber Narcoterorism" menggunakan beragam situs terkemuka seperti youtube, twitter dan facebook untuk tujuan merebut pangsa pasar, penyebaran pemikiran, dorongan, perekrutan dan berbagai informasi. Menurutnya, hal ini menjadi sebuah cara yang paling efektif dalam melakukan aksi yang diinginkannya.

"Kejahatan lintas negara ini akan menjadi ancaman serius dan sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia. Kita harus mewaspadai dan mengantisipasi serta mencegah secara dini "Cyber Narcoterorism" yang menjadi musuh bersama bangsa Indonesia saat ini, bahkan menjadi musuh bangsa-bangsa di dunia," jelasnya.

Ditambahkan oleh Panglima TNI bahwa kita juga harus siap mengantisipasi perkembangan situasi agar tidak terdadak menghadapi spektrum ancaman yang semakin kompleks. "Sekecil apapun peran dan tugas yang kita miliki merupakan penentu keberhasilan setiap tugas yang diemban oleh TNI, karena kita berada dalam satu kesatuan sistem," ujarnya.

Pengamat Militer Indonesia, Dr. Connie Rahakundini juga sangat-sangat menegaskan bahwa, Dunia Cyber harus ada dibawah kendali TNI Angkatan Udara. Untuk itu, Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) harus memiliki kemampuan mengawasi wilayah udara, angkasa dan dunia maya, kemampuan menindak ancanam dan resiko dari wilayah udara, kecepatan ketepatan dalam tindakan preventif dan kuratif di wilayah udara.

"Hal ini menuntut Kohanudnas untuk bertransformasi. Transformasi itu merupakan tuntutan seiring adanya dinamika regional dan global yang turut mengubah beberapa sektor strategis tidak terkecuali militer dengan munculnya Revolution In Military Affair (RMA), RMA dimaknai sebagai perubahan aplikasi teknologi persenjataan militer dalam menghadapi ancaman, tantangan dan konflik," ujarnya saat ditemui oleh Jurnalis JurnalJakarta.com dalam kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) TNI Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) 2018 lalu.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa masalah kejahatan dunia maya (cyber crime) saat ini patut mendapatkan perhatian lebih dari semua pihak, terlebih tahun ini adalah merupakan Tahun Politik, dimana akan berlangsung Pemilihan Kepala Daerah di beberapa Wilayah.

Oleh karena itu, cyber crime berpotensi mengancam kehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara. Untuk itu dihimbau pula bersama-sama menangkal Hoax, salah satu caranya yakni dengan rumus BBG, yaitu teliti dan mencari tahu kebenaran, kebaikan dan kegunaan informasi, sebelum disebar luaskan. (Bgs)

BERITA TERKAIT :