|
find us on : 
Home > POHUKAM > Kuasa Hukum Terpidana Rektor STT Setia Matheus Mangentang Ajukan Praperadilan

Kuasa Hukum Terpidana Rektor STT Setia Matheus Mangentang Ajukan Praperadilan

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 09 Agustus 2019 | 13:48:46
dibaca | 937 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Herwanto Nurmansyah, Kuasa Hukum terpidana Rektor Sekolah Tinggi Theologia (STT Setia) Matheus Mangentang dan mantan Direktur STT Setia Ernawaty Simbolon mendaftarkan praperadilan, di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Timur (Jaktim), Kamis (8/8/2019).

Kedatangan Herwanto untuk mengajukan pra peradilan terkait eksekusi yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim) terhadap dua kliennya.

"Jadi kita mendaftarkan Praperadilan terkait eksekusi yang dilakukan oleh kejaksaan negeri Jakarta Timur. Karena sesuai dengan keputusan, jaksa tidak ada diperintahkan untuk mengeksekusi Pak Mateus Mangentang," ujarnya kepada Wartawan ketika dijumpai usai mendaftar praperadilan tersebut.

Menurut Herwanto bahwa dirinya menganggap, jaksa salah menerapkan hukum. Jadi kami hari ini mendaftarkan Praperadilan," tambahnya.

Dikatakannya bahwa, dalam melaksanakan eksekusi, jaksa tidak menyertakan seluruh putusan dari pengadilan. Ada point yang tidak dimasukkan oleh jaksa," ungkapnya.

Herwanto menjelaskan bahwa upaya Pra Peradilan ini dilakukan untuk menguji apakah kewenangan yang dilakukan oleh jaksa tersebut sudah benar atau tidak.

"Pra Peradilan ini adalah untuk menguji apakah kewenangan itu sudah dilakukan dengan semestinya atau melampaui kewenangannya. Ada point 4 yang menyatakan bahwa para terdakwa tetap pada tahanan kota," ujarnya.

Hal yang menyedihkan, menurut Herwanto yakni proses eksekusi Matheus Mangentang yang dilakukan saat berada di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran.

"Yang sangat menyedihkan buat kami Pak Matheus itu dieksekusi saat berada di rumah sakit, masih ada bekas infusan," tandasnya.

Herwanto, mengaku keberatan dengan eksekusi yang dilakukan oleh kejaksaan. Dia menegaskan, kliennya bukanlah seorang buronan, karena tanggal 29 Juli 2019 kami menyampaikan surat permohonan penundaan eksekusi karena sakit dan dalam berita acara pelaksanaan putusan pengadilan, jaksa sengaja tidak memuat poin 4 dalam putusan yang isinya menyatakan para terdakwa tetap ditahan dalam tahan kota.

Artinya ada yang disembunyikan oleh jaksa terhadap isi putusan oleh karena itu hari ini kami akan menyampaikan permohonan praperadilan.

Kami juga sangat menyayangkan eksekusi yang dilakukan oleh Kejaksaan Jaktim terkesan tidak manusiawi karena dilakukan di rumah sakit saat klien kami sedang diinfus," pungkas Herwanto.h

BERITA TERKAIT :