|
find us on : 
Home > KESEHATAN > Gelorakan Kampanye Anti Narkoba

Gelorakan Kampanye Anti Narkoba

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 26 Juni 2019 | 11:03:38
dibaca | 3484 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Imelda S.Kep Mahasiswa Magister Manajemen Keperawatan dan Chatarina Dwiana Wijayanti, BSN., M.Kep. (dosen pembimbing) Gelorakan Kampanye Anti Narkoba.

Skenario umum
Seseorang bereksperimen menggunakan zat adiktif bermaksud untuk mencoba sekali saja untuk "pengalaman". Dia tahu, bahkan paham bahwa terlepas dari pemakaian narkoba jangka pendek atau jangka panjang selalu menghasilkan konsekuensi dan itu berbahaya.

Keinginan mencoba sekali ternyata kenikmatan efek euphoria narkobat menimbulkan hasrat untuk menggunakannya lagi dan lagi, sampai pada kondisi ketidakberdayaan untuk menghentikan dan berusaha keluar dari pengaruh zat adiktif.

Dampak penyalahgunaan narkoba antara lain gangguan fisik, mental dan moral, berupa penurunan produktivitas, pola pikir, kesulitan dalam pengambilan keputusan, keluhan dalam hal penglihatan, pendengaran, maupun kerusakan organ tubuh.

Terdapat lebih dari 800 narkotika jenis baru (New Psycoactive Substances/NPS) di berbagai belahan dunia (UNODC, 2017). Istilah baru tidak selalu merujuk pada penemuan baru, beberapa NPS pertama kali disintesis 40 tahun lalu - namun zat tersebut baru-baru ini tersedia di pasar. Bahkan transformasi narkoba semakin bervariasi.

Ini tak hanya dikemas dalam bentuk serbuk, narkoba masa kini dikemas dalam bentuk permen, kue, camilan, vitamin dan bahkan paket cair. Transformasi bentuk narkoba memang sengaja diciptakan untuk mengelabui siapapun terlebih pada anak-anak dan remaja.

Masa remaja merupakan suatu periode penting dari rentang kehidupan, suatu periode transisional, masa perubahan, masa usia bermasalah, masa dimana individu mencari identitas diri, usia menyeramkan, masa unrealism dan ambang menuju kedwasaaan.

Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja akan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa.

Oleh karena itu, apabila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka masa depan mereka akan hancur. Usia awal (12-14 tahun) hingga akhir (15-17 tahun) sangat beresiko tinggi untuk memulai menggunakan narkoba (Puslitdatin, 2018).

Data survey tahun 2016 menunjukan bahwa 27.3% penyalahguna narkoba adalah pelajar/ mahasiswa. Dengan didasari motif "ingin tahu" dan dibujuk teman (BNN, 2016). Data hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan LIPI diketahui bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 3,21% atau setara dengan 2.297.492 pelajar/mahasiswa pernah menyalahgunakan narkoba pada tahun 2018.

BNN sebagai lembaga pemerintah yang diberi wewenang dalam upaya penanggulangan permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, melalui Bidang Pencegahan, Pemberdayaan Masyarakat, Rehabilitasi, dan Pemberantasan. BNN menyusun, merumuskan dan menetapkan norma, standar, prosedur dan kriteria P4GN sejak tahun 2011.

Salah satu program P4GN yang disusun adalah program KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) atau sering didengungkan dengan istilah kampanye anti narkoba.

Kelompok pelajar dan mahasiswa yang terpapar KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) sebanyak 79%. Kelompok tersebut sebanyak 74% menyatakan memahami program kampanye yang dilakukan dan 53% akan menghindari Narkoba.

BNN pun telah melakukan monitoring dan evaluasi program dan kegiatan yang dilakukan ke berbagai satuan kerja di kewilayahan dengan hasil capaian 4,2 atau jika dikonversikan ke persentase keberhasilan program menjadi 83,3% dengan kategori "Baik".

Semua capain tersebut menunjukkan hal yang baik. Namun yang menjadi pemikiran bersama sejauh mana capaian KIE berdampak terhadap penurunan angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia terutama di kalangan remaja?

Data BNN menyatakan terjadi penurunan pemakai pertama/ angka laju coba pakai dibawah dari target (9,75%) sebagai akibat kegiatan edukasi yang dilakukan.

Apakah angka penurunan pemakai pertama ini mampu menandingi keagresifan pertumbuhan angka penyalahgunaan narkoba?

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2018 dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba (usia maksimal 18 thn). Jumlah tersebut terbilang fantastis karena data terakhir tahun 2016, KPAI mencatat sebanyak 14 ribu anak adalah pengguna narkoba.


Program Promosi Kesehatan/Edukasi.

Program P4GN bidang pencegahan mempunyai tugas melaksanakan kebijakan teknis P4GN dengan arah kegiatan yaitu mendekatkan layanan informasi program P4GN bidang pencegahan kepada masyarakat dengan melakukan tugas seperti wahana diseminasi, sosialisasi dan pembentukan kader.

Menjadi perhatian BNN dan instansi terkait untuk melakukan evaluasi dan pembaharuan dalam bentuk edukasi atau kampanye agar semakin efektif untuk mendukung upaya anti narkoba.

Edukasi/ kampanye yang di programkan P4GN ini cakupannya semaksimal mungkin meliputi seluruh Indonesia. Tehnik edukasi/ kampanye tersebut disesuaikan dengan karakteristik wilayahnya (perkotaan, desa hingga daerah terpencil).

BNN pusat (Laporan Kinerja BNN 2016) telah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas intervensi informasi bahaya penyalahgunaan narkoba dan implementasi kebijakan P4GN ke 20 (dua puluh) provinsi di Indonesia dengan hasil sebesar 81,08% melebihi dari target yang ditetapkan 60%.

Laporan temuan yang dihasilkan sejogjanya mempertimbangkan jumlah penduduk Indonesia sebagai pembanding hitungannya. Populasi penduduk Indonesia pada tahun 2016 adalah 261,1 juta jiwa. Maka disarankan hasil presentasi dari 20 propinsi tersebut disesuaikan dengan jumlah penduduk Indonesia saat itu.

Penelahaan program edukasi/ kampanye ini kiranya menjadi perhatian semua pihak sehingga pelaksanaannya bukanlah semata rutinitas menjalankan program tetapi kepada kebermaknaannya terhadap masyarakat Indonesia dengan terus meningkatkan kualitas, kredibilitas komunikator, imbauan pesan, teknik komunikasi dan media komunikasi.

Rekomendasi Program

Adapun hal yang dapat ditingkatkan dimasa mendatang adalah BNN menyusun kurikulum yang terstandar dan secara kontinyu disosialisasikan untuk menambah wawasan bagi setiap anggota BNN, khususnya bagi para penyuluh;

BNN dapat mengembangkan fungsi diklat di beberapa daerah, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan pelatihan berdasarkan regional; Memperkuat metode, inovasi, cakupan (intesifikasi dan ekstensifikasi) kampanye anti-narkoba dalam rangka pembentukan persepsi masyarakat tentang bahaya narkoba;

BNN harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan melakukan komunikasi publik secara terus menerus, baik melalui media konvensional (televisi, radio, majalah, dll) maupun internet dan sosial media (website, facebook, twitter, instagram, dll);

Peningkatan kapasitas SDM yang belum sepenuhnya memenuhi dan sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan, baik di pusat dan daerah;

Meningkatkan peran institusi Pendidikan dalam mengembangkan ketrampilan psikologis dan pendidikan anti narkoba; Promosi kesehatan/ kampanye/ edukasi masuk hingga ke unit terkecil masyarakat, mulai dari keluarga, RT/RW, juga organisasi terkecil dalam masyarakat.

Meningkatkan peran masyarakat dalam inovasi dan pendidikan anti narkoba sehingga mampu mengawasi dan mengendalikan proses interaksi dalam lingkungan sekaligus menciptakan ketahanan diri warga.

BERITA TERKAIT :