|
find us on : 
Home > TEKNOLOGI > Indosat: Masalah Ekosistem Jadi Titik Berat Permasalahan Implikasi 5G di Indonesia

Indosat: Masalah Ekosistem Jadi Titik Berat Permasalahan Implikasi 5G di Indonesia

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 26 April 2019 | 07:24:39
dibaca | 1180 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Operator seluler di dunia berbondong-bondong bersiap menyambut kemunculan teknologi 5G. Tak terkecuali operator seluler di Indonesia yang mulai melakukan uji coba jaringan 5G secara terbatas.

Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Turina Farouk mengatakan ekosistem menjadi titik berat permasalahan implikasi 5G di Indonesia. Ekosistem yang dimaksud yakni menyoal perangkat, kesiapan perangkat 5G, frekuensi, dan kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

"Masalahnya bukan di jaringan tapi di ekosistem, ekosistem itu kan bisa dari device bukan hanya network nya aja, bisa dari frekuensi sampai sekarang. Belum lagi dari pemerintah," ujarnya Turina kepada awak media di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (25/4).

Indosat Ooredoo menyatakan pihaknya telah melakukan uji coba 5G secara internal pada November lalu. Turina mengungkapkan pihaknya akan melakukan uji coba 5G di luar ruangan pada semester kedua tahun ini.

"Kesiapan jaringan sekarang sebenarnya kita semua sudah 5G Ready. Jadi semua jaringan-jarinhan 4G yang kita sekarang lagi kita bangun, kita sebenarnya sudah 5G Ready," ungkapnya

Untuk menyiapkan jaringan 5G, Turina menuturkan pihaknya merogoh Rp10 triliun dari belanja modal (capex) tahun 2019. Menurutnya, investasi tersebut bukan semata untuk membangun infrastruktur seperti halnya yang dilakukan saat hendak mengadopsi 4G.

"Sekarang itu investasinya tidak semata-mata ngomongin 5G karena kan 4G nya sendiri sebenernya 5G ready. Jadi yang kita bangun sekarang yang Capex sekitar Rp10 triliun itu kan memang 88 persen itu adalah untuk 4G yang sebetulnya itu sudah equal dengan 5G," jelasnya.

Soal pembangunan jaringan 4G sebagai langkah sebelum adopsi 5G, division head kalisula field engineer I Gede Maruta Sadu mengatakan saat ini perkembangan BTS 4G telah 'menyelimuti' 80 persen populasi. Indosat menargetkan bisa 'menyelimuti' 87 persen populasi dnegan jaringan 4G.

"Jadi awal 4G (tahun 2017) cuma 41 persen saat ini di 2019 sudah mencapai 80 persen dan kita tidak akan berhenti. Di 2019 akan terus mengembangkan 87 persen populasi tercover 4G," tutur Sadu.

Untuk merealisasikan target tersebut, Indosat berencana menambah 4.200 site baru demi menyiapkan jaringan 5G ang telah dilengkapi serat fiber. Saud menargetkan 30 persen site telah diselimuti serat fiber dan menambah 18 ribu BTS 4G. (Red)

BERITA TERKAIT :