|
find us on : 
Home > NASIONAL > Ketum PDI Perjuangan : Kemenangan PDIP Harus Jadi Kemenangan Rakyat dan Bangsa Indonesia

Ketum PDI Perjuangan : Kemenangan PDIP Harus Jadi Kemenangan Rakyat dan Bangsa Indonesia

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 10 Januari 2019 | 16:47:48
dibaca | 3160 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Pemilu sebentar lagi. Waktu kita singkat, hanya 97 hari menuju 17 April 2019. Bergeraklah untuk semua cita-cita membumikan Pancasila. Kemenangan kita pada Pemilu 2019, bukan semata kemenangan PDI Perjuangan. Kemenangan PDI Perjuangan harus menjadi kemenangan rakyat dan bangsa Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri dalam paparannya saat merayakan HUT PDIP Ke-46 yang digelar di JiExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1).

Lebih lanjut, Megawati menekankan bahwa, Partai ini harus menang. Pak Jokowi harus terpilih lagi sebagai Presiden. Maka, jangan bertengkar karena perebutan kursi. Jangan saling sikut. Singkirkan metode konflik, enyahkan hasrat devide et impera.

"Jangan karena ambisi berkuasa, lantas sibukkan diri menebarkan benih perpecahan. Jangan kampanyekan kebencian. Kemenangan hanya tercapai jika Tiga Pilar Partai, Sayap Partai, termasuk simpatisan partai ada dalam satu nafas dan langkah perjuangan. Camkan pesan saya", tegasnya.

"Jika kita pecah, kita sudah kalah dari awal pertempuran politik. Tetapi, jika kita solid maka setengah pertempuran sesungguhnya telah kita menangkan!", tambah Megawati.

Megawati Soekarnoputri juga mengatakan, turunlah ke bawah, datangi rakyat, sapa mereka, menangkan hati rakyat. Berpolitik dengan gembira. Sampaikan kabar yang mampu memompa harapan rakyat untuk sama-sama mengabdi pada kepentingan nasional. Partai ini membutuhkan rakyat.

"Karena, rakyat adalah sumber, cakrawati sekaligus tujuan politik PDI Perjuangan. Tebarkan benih-benih kesadaran politik. Pemilu 2019 adalah momentum untuk kebangkitan Indonesia. Rakyatlah yang sesungguhnya menjadi penentu", ungkapnya.

"Saya yakin, mayoritas rakyat Indonesia adalah rakyat yang akan berjuang bersama kita. Rakyat Indonesia yang akan sekuat tenaga, sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila!", pungkas Megawati.

Selain itu, Megawati menjelaskan bahwa, Sudah 46 tahun bendera banteng moncong putih dikibarkan. PDI Perjuangan mengalami pasang naik, tetapi juga pasang surut. Kita mengalami kekalahan dalam beberapa Pemilu. Contohnya, pada Pemilu tahun 2004 dan 2009. Tetapi, meskipun kalah dalam Pemilu, partai ini tidak memilih jalan pintas.

"PDI Perjuangan tidak terapkan strategi 'asal comot calon legislator', apalagi dari partai lain. Partai ini tidak berkonsep 'asal rekrut tokoh pendongkrak elektabilitas', yang tujuannya asal tambah kursi DPR, asal lolos parlemen threshold, atau asal menang Pemilu.", jelasnya.

Memang, lanjutnya, PDI Perjuangan adalah partai yang terbuka, terbuka bagi siapa saja. Siapa saja, apa pun latar belakangnya. Tetapi, pertama kali adalah harus berideologi Pancasila 1 Juni 1945. Pintu PDI Perjuangan selalu terbuka. Terbuka bagi siapa pun yang siap dan berani ditugaskan sebagai "The Guardians of Pancasila dan Penjaga Pancasila!"

"Meskipun terbuka, tetapi saya tidak ingin partai ini diisi oleh kader karbitan atau orang yang mendadak kader pada saat Pemilu. Mengaku kader, namun jika tidak direkomendasi atau tidak terpilih, lalu loncat ke partai lain. Partai bagi kami bukan kendaraan lompatan kekuasaan", tutur Megawati.

Beliau menambahkan bahwa, Saat ini ada fenomena pragmatisme politik. Ada politisi yang maju sebagai legislatif atau eksekutif karena direkomendasikan dari partai A, misalnya. Namun, saat terpilih, karena hasrat untuk naik tingkatan kekuasaan atau motif "mengamankan diri", lantas ia pindah ke partai lain.

"Beberapa kali peristiwa serupa pun terjadi di PDI Perjuangan. Tetapi, kami tidak berkecil hati saat kehilangan politisi pragmatis seperti itu. Justru, saya mengibaratkannya sebagai seleksi alam ideologi. Seleksi ideologi akan memilah mana kader dan mana yang bukan kader. Siapa pun yang lebih mementingkan diri dan kelompoknya, sudah pasti akan alami seleksi ideologi. Secara alamiah ideologis, mereka akan menyingkir atau tersingkirkan dari PDI Perjuangan", katanya.

PDI Perjuangan terus berupaya untuk menjadikan partai sebagai sekolah politik bagi kadernya. Partai ini terus berjuang untuk menjadi partai pelopor, yaitu partai yang memiliki disiplin ideologi, disiplin teori dan disiplin tindakan politik dalam satu kesatuan.

"Secara bertahap dan terencana partai ini membenahi diri. Sehingga, pada titik tertentu akan tersaring sari pati, yaitu kader ideologis yang sesungguhnya. Kepada merekalah masa depan partai ini disandarkan!", pungkasnya. (Bgs)

BERITA TERKAIT :