|
find us on : 
Home > KESEHATAN > Masyarakat Muslim Indonesia di AS Hadiri Muktamar IMSA 2018 di New Jersey AS

Masyarakat Muslim Indonesia di AS Hadiri Muktamar IMSA 2018 di New Jersey AS

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 28 Desember 2018 | 06:30:44
dibaca | 5581 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - New Jersey USA - Masyarakat muslim Indonesia di seluruh Amerika bertemu dalam agenda tahunan Muktamar Indonesian Muslim Society in America (IMSA) 2018. Acara yang menjadi ajang silaturahim tahunan ini dihadiri oleh tak kurang dari 1.100 orang peserta dari berbagai penjuru Amerika Serikat.

Dalam sesi pembukaan (opening remark) tampil sebagai pembicara Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Budi Bowoleksono yang diawali ucapan sambutan (welcoming remark) oleh Presiden IMSA Syafrin Murdas. Sementara sambutan penutup (closing remark) sekaligus tausiyah disampaikan oleh ulama Indonesia Habib Salim Segaf Aljufri.

Syafrin Murdas menyampaikan bahwa, IMSA telah berdiri sejak tahun 1998 dan Muktamar IMSA selalu menjadi ajang silaturahim muslim tahunan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat muslim Indonesia di AS," ujarnya.

Momen ini lanjutnya, sekaligus untuk mengokohkan identitas keislaman dan karakter budaya Indonesia. Betapapun jauh dari tanah air, tapi diaspora di Amerika tetap cinta terhadap Indonesia. Lebih dari itu, melalui perannya di AS, para diaspora juga aktif berkontribusi bagi masyarakat Amerika terutama dalam menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin," lanjutnya.

Sementara, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Budi Bowoleksono, mengapresiasi penyelenggaraan Muktamar IMSA setiap tahun. Baginya ini tahun terakhir beliau hadir di muktamar, karena penugasannya yang akan selesai awal tahun depan. Selain menjadi ajang silaturahim, momen ini dapat dimanfaatkan untuk mengupdate informasi dan kepedulian terhadap peristiwa-peristiwa tanah air.

Budi Bowoleksono juga berpesan, di tahun politik seperti saat ini kerap terjadi perbedaan pilihan. Hal itu wajar saja, tapi pesannya, jangan sampai perbedaan politik-ekonomi yang hanya sesaat mengalahkan kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar," pesannya.

Silaturahim di Muktamar IMSA ini salah satunya menjadi ajang persatuan dan kontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia.

Pada sambutan terakhir, tampil Habib Salim Segaf Aljufri dalam kapasitas sebagai ulama Indonesia dan Wakil Ketua Persatuan Ulama Dunia. Beliau didaulat memberikan closing remark dan tausiyah kepada para peserta. Mengawali sambutannya, Habib Salim Segaf mengatakan bahwa diantara nikmat terbesar yang diberikan Allah adalah menjadi seorang muslim.

"Maka kita harus bangga menjadi muslim. Isyhaduu bi annana muslimun! Karena itu tema Muktamar IMSA ini sangat tepat yaitu mengokohkan "our identity", katanya.

Habib Salim Segaf lalu mengulas bagaimana seorang muslim dapat menjadi pribadi yang diterima dan dicintai di tengah-tengah bangsa plural seperti Amerika Serikat, sehingga pada gilirannya Islam benar-benar menjadi agama rahmat bagi dunia.

"Islam itu pada akhirnya tercermin dalam akhlak kita. Maka untuk dapat dicintai masyarakat kita harus menampilkan akhlak yang baik. Perbanyak senyum pada orang lain, teruslah berbuat bagi kepada tetangga, dan banyak-banyak ucapkan terima kasih.

Jangan balas kebencian dengan kebencian. Jangan balas keburukan dengan keburukan. Tapi sebaliknya, balas kebencian dan keburukan dengan kebaikan. Itulah akhlak Islam," ungkap Habib Salim.

Kata-kata terima kasih misalnya, lanjut Habib Salim, punya makna yang luar biasa. Pendahulu bangsa kita menciptakan kata yang indah ini. Filosofinya adalah setiap kita menerima sesuatu, maka kita harus memberi (kasih).

"Begitu seterusnya dalam kehidupan muslim. Kita terima, lalu kasih. Sehingga kita senantiasa menjadi pribadi yang bersyukur. Bersyukur kepada Allah, bersyukur kepada manusia.

"Man lam yaskurun naas, lam yaskurullah". Yang artinya, barang siapa yang tidak pandai berterima kasih kepada sesama, maka ia tidak bersyukur kepada Allah," ungkapnya.

Menurut Menteri Sosial RI 2009-2014 ini, dengan menunjukkan akhlak yang baik itu, kita dapat mengubah dan membentuk persepsi bahwa Islam adalah agama yang indah, agama yang rahmat.

Ia menekankan pentingnya peduli kepada masyarakat sekitar. Bantulah saudara kita, bantulah tetangga kita, apapun agama dan latar belakangnya. Jangan sekali-kali menyakiti mereka. Inilah sikap kita dalam memposisikan perbedaan di tengah masyarakat.

"Perbedaan itu adalah hal yang niscaya. Tapi dari sekian banyak perbedaaan, pasti kita menemukan lebih banyak persamaan atau titik temu. Di situlah kita bisa bekerja sama dan saling berbuat baik," katanya.

Terakhir mantan Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi ini berpesan agar IMSA terus dapat meningkatkan peran dan kontribusinya, bukan saja untuk Indonesia akan tetapi juga untuk masyarakat dan bangsa Amerika Serikat sendiri.

"Di sinilah saudara-saudara hidup, bertetangga, dan berinteraksi dengan masyarakatnya. Jadilah pribadi yang selalu berbuat baik dan gemar membantu serta berperan aktif dalam kemajuan masyarakat Amerika Serikat, dengan nilai-nilai ajaran Islam," pungkas Habib Salim.

BERITA TERKAIT :