|
find us on : 
Home > NASIONAL > Jubir BIN Sebut 50 Penceramah di Masjid Lingkungan Pemerintah Sebarkan Konten Kebencian

Jubir BIN Sebut 50 Penceramah di Masjid Lingkungan Pemerintah Sebarkan Konten Kebencian

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 21 November 2018 | 12:05:58
dibaca | 919 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Indonesia (BIN), Wawan Hari Purwanto menyebutkan, ada 50 penceramah di masjid lingkungan pemerintah menyebarkan konten kebencian.

Konten cemarah yang disampaikan 50 penceramah tersebut, kata Wawan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/11), bermuatan ujaran kebencian, dan mengkahfir-kafirkan orang lain.

Untuk itu, pihaknya akan mendorong isi ceramah ini lebih sejuk dengan berkoordinasi dengan semua kementerian/lembaga.

Wawan tidak menyebut secara jelas apakah penceramah tersebut terafialiasi dengan kelompok berajaran radikal tertentu atau tidak, namun yang pasti BIN terus melakukan pendalaman.

"Yang jelas ada penceramah seperti itu dan sudah kita dalami dan kita lakukan pendekatan-pendekatan supaya enggak lebih (jauh) lagi", papar Wawan sembari menjelaskan, langkah nyata yang dilakukan saat ini melalui komunikasi.

50 penceramah tersebut sudah terjadwal mengisi cemarah di 41 masjid lingkungan pemerintah di Jakarta, dimana berdasarkan ‎survei Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat‎ (P3M) NU, 41 masjid tersebut terpapar paham radikal. Hasil survey P3M NU itu disampaikan kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN.

"Sebenarnya ceramah bebas (tidak dibatasi materinya), tapi kita ada koridor enggak boleh intoleransi", ucapnya.

Sebelumnya, Kasubdit di Direktorat 83 BIN Arief Tugiman dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI, di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Jakarta, Sabtu (17/12), menyatakan, keberadaan masjid di Kementrian/Lembaga dan BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah-ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan.

Hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toIeran dan menghargai kebhinekaan.

Selanjutnya dilakukan pemberdayaan Da'i untuk dapat memberikan ceramah yang menyejukkan dan mengkonter paham radikal di masyarakat.

Terkait tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpapar radikalisme, dan 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi tertarik dengan paham radikal, benar adanya.

Namun data PTN dimaksud hanya disampaikan kepada pimpinan Universitas tersebut untuk evaluasi, deteksi dini dan cegah dini, tidak untuk konsumsi publik, guna menghindari haI-hal yang merugikan universitas tersebut. (Red)