|
find us on : 
Home > MELITER > Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi Luncurkan Karya Tulis Kemaritiman

Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi Luncurkan Karya Tulis Kemaritiman

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 19 Oktober 2018 | 01:19:04
dibaca | 802 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi S.E., M.A.P., meluncurkan dua karya tulisnya yang berjudul "KSAL Kedua Dari Tanah Pasundan" dan "Fondasi Negara Maritim" di Balai Samudra, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis pagi (18/10).

Pada buku pertama merupakan biografi tentang penulis dengan merekonstruksi siapa yang terjadi mulai dari saat lahir dalam pengasuhan dan bimbingan orang tua, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan kerja hingga perjalanan hidup Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi S.E., M.A.P., menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Laut.

Merujuk pada buku kedua, Ade Supandi melihat paham kemaritiman di Indonesia terus berkembang. Namun, dalam hal pondasi masih dirasa kurang.

"Pemahaman tentang maritim kan berkembang ya. Tapi dalam konteks yang berkaitan dengan sains dan sistem, kita belum terlalu aware dengan maritim", ujar Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi.

Oleh sebab itu, dari kacamata pribadinya, Ade Supandi merasa perlu membuat suatu bangunan utuh mengenai maritim. Tentu saja dimulai dari bagian pondasinya.

"Dan memang yang saya kupas di sini baru pada tataran apa yang berkaitan dengan yang menjadi pondasi dari negara kita. Jelas yang fundamental adalah dengan UU NKRI. Tapi yang kita perdalam adalah karakter manusia. Karena manusia Indonesia ini akan menentukan negara maritim seperti apa," katanya.

Selain itu, Mantan Kasal periode 2015-2018 tersebut menerangkan, dalam bukunya ada tiga aspek yang akan dikembangkan selain soal pondasi maritim, yakni politik, ekonomi, dan militer.

"Tetapi itu nanti pada atapnya. Berikutnya yang kita bahas pada bangunannya berkaitan dengan ocean leadership. Artinya kepemimpinan. Karakter kepemimpinan itu harus juga menjadi bagian yang ikut membangun dari yang pondasi tadi itu," terangnya.

Dia menambahkan, peran Angkatan Laut (AL) dalam membangun pondasi kemaritiman di Indonesia juga tidak kalah penting.

Menurutnya, bicara pondasi juga harus bicara mengenai kedaulatan. Artinya, dengan wilayah laut Indonesia yang luas, kekuatan AL menjadi tolok ukur yang amat penting.

"Sekarang misalnya untuk ancaman negara, itu kan sudah berkurang. Tapi kita ada pepatah yang namanya 'Si vis Pacem, Para Bellum' yang artinya kalau ingin damai harus siap perang. Artinya kebutuhan kapal canggih tetap diperlukan. Tetapi kita juga cukup memadai untuk kapal-kapal patroli untuk mengamankan wilayah kita," tandas Ade.

Terakhir, Ade berharap kedua bukunya tersebut dapat menjadi sumbangsih untuk buku-buku maritim lainnya.

Karena menurutnya, tidak terlalu banyak orang Indonesia yang menulis tentang kemaritiman. "Saya belajar nulis dari apa yg saya alami, saya lihat, dan saya praktekkan. Jadi ini sebagai satu sumbangan untuk menambah. Kita itu paling kecil dari negara yang suka buat buku. Apalagi kemaritiman, sangat sedikit. Mudah-mudahan juga ini ditiru oleh adik-adik saya untuk belajar menulis," jelasnya.

"Yang jelas adalah program konektivitas, peningkatan sumber daya satu wilayah itu harus betul-betul bisa saling komplemen. Berikutnya interaksi manusia, perdagangan itu terjadi kalau ada transaksi jual beli. Itu yang harus hidup di seluruh wilayah NKRI", tambahnya.

Sementara itu, Dalam momen tersebut, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Siwi Sukma Aji mengatakan bahwa buku Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi merupakan sumbangsih yang bagus untuk membangun negara maritim.

"Dua buku ini merupakan cakrawala untuk membangun bangsa maritim yang kuat," ujar Laksamana Siwi.

Selain itu, lanjut Kasal, kiprah Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi walaupun sudah pensiun dari angkatan laut tetap mengimplemetasikan ilmunya untuk membangun bangsa maritim.

"Beliau tetap ikut serta dalam proses implementasi untuk mencapai Indonesia sebagai bangsa maritim," imbuhnya.

Salah satunya lewat menulis buku agar bisa dilihat oleh khalayak dan generasi mendatang. Siwi sangat kagum dengan karya mentornya tersebut.

"Terlihat di tengah-tengah kesibukan beliau, beliau masih bisa memberi sumbangsih untuk membangun maritim," ungkapnya.

Menurutnya, buku merupakan cakrawala yang membuka jendela dunia. Hal itu sesuai dengan pepatah orang pandai, tanpa buku bagai ruang gelap.

"Hanya dengan membaca kita bisa melihat dunia. Jadi buku ini sangat penting," pungkas Laksamana Siwi. (Bgs)