|
find us on : 
Home > NASIONAL > Menhan RI : Rakyat Harus Dilindungi, Satu Orang Saja Meninggal Itu Adalah Dosa Kita Semua

Menhan RI : Rakyat Harus Dilindungi, Satu Orang Saja Meninggal Itu Adalah Dosa Kita Semua

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 14 Mei 2018 | 21:19:45
dibaca | 343 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa DPR RI harusnya sadar untuk segera menerbitkan RUU Terorisme menjadi Undang-Undang akibat peristiwa teror di Surabaya dalam dua hari terakhir.

"Jangan ada kepentingan, jangan dikaitkan macam-macam, sudah seperti ini masak rakyat kita disuruh mati-mati lagi. Tidak benar itu. Itu bukan mentok tapi dimentok-mentokin, saya rasa ada yang permasalahkan itu. Rakyat harus dilindungi, satu orang saja meninggal itu adalah dosa kita semua," tegasnya.

Hal itu ditegaskan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dalam siaran persnya saat melaksanakan silaturahmi bersama para awak media di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (14/5/2018).

Menhan RI menilai bahwa ada kepentingan di balik tak kunjung usainya pembahasan RUU Terorisme di DPR RI.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menegaskan akan menerbitkan Perppu Terorisme jika pembahasan RUU Terorisme tidak segera diselesaikan pada akhir masa sidang bulan Juni 2018.

Selain itu, Menhan juha menegaskan sejak awal tugas pokok Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah ikut memberantas terorisme.

Seperti diketahui, peran TNI menjadi poin terakhir yang masih dibahas dalam RUU Terorisme oleh DPR RI. "Tugas pokok TNI itu pertama menjaga keutuhan bangsa, menjaga kedaulatan bangsa, dan menjaga keselamatan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Teroris itu kan mengancam keutuhan bangsa dan berusaha mengganti ideologi negara," kata Ryamizard saat ditemui.

"Dalam sapta marga, TNI adalah pembela ideologi negara dan bertanggung jawab tanpa menyerah. Dari situ saja kan sudah jelas," tambahnya.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menilai bahwa terorisme menjadi ancaman nyata dan serius bagi keamanan negara. Oleh sebab itu, Menhan mengatakan, penanganan terorisme tidak bisa menggunakan langkah biasa saja. "Harus keras kita melawan kekerasan itu (terorisme), jangan sedikit-sedikit HAM, sedikit-sedikit HAM,". ujarnya.

Ia menuturkan, para pelaku teror belakangan ini adalah teroris generasi ketiga, yakni milisi-milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang pernah berperang di Suriah. Mereka kembali ke Tanah Air pasca kekalahan ISIS.

Adapun generasi pertama kata Menhan yakni teroris pasca tragedi 11 September 2001. Sementara generasi kedua yakni para teroris ISIS.

Generasi ketiga yang merupakan para milisi pulang kampung adalah kelompok yang mengakui terbentuknya ISIS di Asia Tenggara.

"Dua tahun lalu saya buat trilateral (dengan Malaysia dan Filipina) untuk melokalisir (teroris di Asia Tenggara). Dua tahun lalu saya sudah mengerti akan terjadi begini," kata mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini. (Bgs)