|
find us on : 
Home > POHUKAM > Soal Pembangunan, Menko Maritim: Boleh Kritik, Asal Membangun

Soal Pembangunan, Menko Maritim: Boleh Kritik, Asal Membangun

Reporter : www.jurnaljakarta.com | 21 Maret 2018 | 16:14:07
dibaca | 2683 Kali
JurnalJakarta.com | Istimewa

JurnalJakarta.com - Menko Maritim Luhut Pandjaitan mengungkapkan, nilai potensi kelautan Indonesia mencapai USD 1,3 triliun. "Mungkin baru dieksplorasi 8 persen, sehingga room (ruang) untuk berkembang masih sangat besar," jelas Menko Luhut saat menjadi pembicara dalam seminar nasional tentang kemaritiman di Badan Pemeriksa Keuangan, Senin (19-3-2018).

Ada beberapa permasalahan di sektor kemaritiman yang menurut Menko Luhut perlu segera ditangani bersama. Pertama, masalah tentang lego jangkar di Batam, Kepulauan Riau. "Jumat saya di Batam itu mengintegrasikan mengenai jangkar kapal, ada 16 ribu kapal jangkar disana karena mereka tidak bisa memuat di Singapura, karena mereka reklamasi, itu jadi sudah menjadi terbatas tempatnya, dan masuk ke Indonesia," bebernya.

Lego jangkar ini, tambah Menko Luhut, berpotensi mendatangkan pemasukan bagi negara. "Di Singapura mereka bisa bayar 2000 dolar untuk lego jangkar sedangkan di kita itu tidak jelas, ini adalah masalah kita semua," keluhnya.

Hal ini, Lanjutnya, karena telah bertahun-tahun belum ada koordinasi antara pemangku kepentingan terkait. "Jadi ada rapat terpadu disana (Batam), ada 6 institusi yang disatukan, ada bea cukai, angkatan laut, kepolisian, Bakamla, semua masing-masing megang kendali sendiri," tuturnya. Menko Luhut berharap dengan pertemuan itu, masalah lego jangkar dapat diselesaikan bersama.

Lalu, masalah kedua adalah kurang integrasi antara lembaga pemerintah, sehingga permasalahan yang muncul jadi berlarut-larut. Diapun lantas mencontohkan tentang proyek pembangunan Kereta Api Ringan (LRT).

"LRT itu adalah (wewenang) kementerian perhubungan dibawah saya, jika tidak selesai LRT maka balik lagi pada kelingkungan hidup, pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta, baru bisa diselesaikan. kita buat strukturnya itu sedemikian rupa, sehingga bisa diselesaikan," bebernya.

Tak jarang penyelesaian sebuah proyek pemerintah memakan waktu yang lama karena masalah integrase tersebut. "Untuk itulah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman itu dibentuk, dan kadang-kadang orang bilang Pak Luhut nanganin semuanya, padahal dibawah koordinasi Kemaritiman itu ada 4 kementerian dibawahnya," jelas Menko Luhut.

Lebih jauh, masalah ketiga, menurut Menko Luhut adalah sampah plastik laut. "Sekarang Teluk Jakarta begitu kotor, tapi kita asyik saling berbeda-beda pendapat, padahal ada masalah didepan mata kita yang bisa membuat generasi kita menjadi generasi kuntet," keluhnya.

Berdasarkan hasil penelitian, jelas dia, plastik yang berubah menjadi microplastic dimakan oleh ikan, kemudian ikan itu dimakan oleh manusia. Apabila perempuan hamil memakan ikan yang mengandung plastik mikro itu maka hampir pasti pertumbuhan tubuh anaknya tidak akan sempurna.

"Jadi kalau kita membuang plastik sembarangan, kita juga membunuh generasi yang akan datang. Maka dari itu, Sungai Citarum yang panjangnya 269 km menjadi target pemerintah dan saya menjadi penanggung jawabnya," beber Menko Luhut.

Alasan pemerintah melakukan revitalisasi sungai terpanjang di Jawa Barat itu karena ada 27, 5 juta orang tinggal di sana. Lalu, ada tiga danau yang terdampak polusi Sungai Citarum, yakni Jatiluhur, Saguling dan Ciratak. Menurut dia, bila masalah ini tidak segera diselesaikan maka ekosistem laut akan tercemar.

Menko Luhut menyebutkan beberapa pencapaian sumber daya alam dan jasa kemaritiman tahun 2015-2017. "Sudah banyak yang dicapai akan tetapi, lebih banyak lagi masalahnya. Jadi kalau ada kritikan yang tidak membangun, karena tiga tahun itu tidak dapat menyelesaikan semua masalah, tapi saya menjadi komandan mempunyai landasan-landasan yang buat kita tetap maju kedepan," tegasnya.

Terakhir, Menko Luhut menuturkan tentang pentingnya penyelesaian masalah secara bersama-sama. "Mari kita kerja sama, kita bangun teamwork, bahwa kalau ada kritik boleh, akan tetapi kritik-kritik yang membangun," tegasnya.